KLIKJATIM.Com | Jember - Sosialisasi penanganan luka akibat gigitan satwa liar sekaligus edukasi pengelolaan satwa liar, khususnya monyet ekor panjang (MEP), digelar di Ruang Pertemuan Letkol Moch. Sroedji, Kantor Bakorwil V Provinsi Jawa Timur di Jember, Senin (20/4/2026).
Kegiatan ini menghadirkan dokter hewan asal Belanda, drh Femke den Hass, bersama tim Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI)/JAAN (Jakarta Animal Aid Network) Indonesia sebagai pemateri. Sekitar 90 peserta dari berbagai unsur turut hadir, mulai dari relawan hingga perwakilan instansi terkait.
Baca juga: Antusias Warga Tinggi, Pendaftaran BPD Desa Jelbuk Belum Dibuka Sudah Banyak Peminat
Peserta berasal dari sejumlah lembaga, di antaranya Dinas Kesehatan PP dan KB Jember, BPBD Jember, Satpol PP Jember, BKSDA Wilayah II Jember, serta Bakorwil V Provinsi Jawa Timur.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman terkait penanganan luka gigitan satwa liar yang berisiko tinggi, serta pentingnya menjaga kelestarian satwa di habitat alaminya.
Femke menekankan bahwa kasus gigitan monyet masih kerap terjadi, salah satunya dipicu oleh praktik pemeliharaan satwa liar yang tidak tepat.
“Pertama adalah pencegahan. Banyak kasus gigitan terjadi karena masih ada masyarakat yang memelihara monyet dan satwa liar, padahal satwa tersebut tidak bisa dipelihara. Pada waktunya, mereka akan kembali liar karena instingnya masih ada, dan ini berbahaya,” ujarnya usai kegiatan.
Ia menjelaskan, banyak insiden terjadi ketika monyet peliharaan dilepas, kabur, atau bahkan dibuang oleh pemiliknya karena tidak mampu merawat. Dalam kondisi stres dan berada di luar habitat, monyet cenderung menjadi agresif dan berpotensi menyerang manusia.
Femke juga menyoroti adanya kasus fatal akibat gigitan monyet, termasuk yang melibatkan anak-anak.
“Ada kasus anak-anak meninggal akibat gigitan. Ini bukan karena monyet ingin menyerang, tetapi karena mereka takut dan tertekan di luar habitatnya,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa luka akibat gigitan satwa liar tidak dapat disamakan dengan luka biasa karena memiliki tingkat kontaminasi bakteri yang tinggi.
“Gigitan hewan itu sangat kotor karena banyak bakteri di mulutnya. Luka tidak boleh ditutup rapat dan harus ditangani di fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau klinik dengan prosedur khusus,” jelasnya.
Selain aspek medis, Femke juga mendorong adanya regulasi tegas terkait larangan pemeliharaan satwa primata. Menurutnya, langkah preventif menjadi kunci untuk mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar.
Ia mengungkapkan, laporan terkait gigitan maupun pemeliharaan monyet masih terjadi secara rutin.
“Data kami menunjukkan hampir setiap minggu ada dua hingga tiga laporan terkait gigitan atau pemeliharaan monyet. Ini menunjukkan masalah ini masih terus berulang,” ungkapnya.
Femke juga mencontohkan langkah di Provinsi Bali, di mana pemerintah daerah mulai menerapkan larangan perdagangan dan pemeliharaan primata melalui berbagai regulasi. Kebijakan tersebut dinilai efektif dalam menekan kasus serupa sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat.
Baca juga: Dugaan Pelecehan Seksual di FH UNEJ Picu Aksi Mahasiswa, Kampus Pastikan Proses Satgas PPKS Berjalan
Sementara itu, salah satu peserta, Vicky Septian, anggota Relawan Barat Daya yang juga bagian dari Ben Seromben Indonesia, mengaku mendapatkan wawasan baru dari kegiatan tersebut.
“Kami jadi lebih paham cara menangani luka gigitan satwa liar dengan benar, sekaligus pentingnya menjaga kelestarian alam dan tidak sembarangan memelihara satwa liar,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami risiko memelihara satwa liar serta pentingnya penanganan yang tepat jika terjadi gigitan.
“Edukasi dan dorongan regulasi diharapkan dapat meminimalkan konflik antara manusia dan satwa liar serta menjaga keseimbangan ekosistem,” pungkas Femke.
Editor : Wahyudi