KLIKJATIM.Com | Sumenep - Perayaan Idulfitri di Kabupaten Sumenep, Madura, tidak semata menjadi momen berkumpul bersama keluarga.
Bagi masyarakat setempat, hari raya juga dimanfaatkan untuk mengunjungi makam orang tua, leluhur, dan tokoh yang telah wafat sebagai bentuk penghormatan dan doa.
Baca juga: Kabupaten Sumenep Pimpin Daerah Berinflasi Terendah di Jawa Timur pada Juni 2026
Kebiasaan ini masih terjaga kuat, terutama di wilayah pedesaan. Setelah menunaikan salat Id dan bersilaturahmi, warga biasanya melanjutkan aktivitas dengan mendatangi tempat pemakaman.
Ziarah tersebut dilakukan sebagai bagian dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Warga Desa Kebunan, Ahzal Kafa, menyebut bahwa kegiatan takziyah saat Lebaran bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari budaya yang terus dilestarikan oleh masyarakat.
Ia menilai, tradisi ini memiliki makna mendalam, tidak hanya sebagai penghormatan kepada leluhur, tetapi juga sebagai pengingat akan kehidupan setelah dunia.
“Lebaran bukan hanya tentang kebersamaan dengan keluarga atau menikmati hidangan, tetapi juga saat yang tepat untuk mengenang jasa orang tua serta para pendahulu kita,” ungkapnya, Minggu (22/3)
Ahzal juga menjelaskan, ziarah biasanya dilakukan bersama keluarga besar. Selain memanjatkan doa, mereka turut membersihkan area makam sebagai wujud kepedulian dan penghormatan terhadap yang telah tiada.
Baca juga: Kredit Fiktif Rp182 Juta di BRI Sumenep, Korban Minta Semua yang Terlibat Diadili
Kegiatan ini dinilai mampu memperkuat nilai religius sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan. Pada momen Lebaran, area pemakaman kerap dipenuhi oleh warga yang datang secara bergantian untuk berdoa.
Tak hanya itu, tradisi ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda. Anak-anak diajak ikut serta agar mengenal asal-usul keluarga dan memahami pentingnya menghormati orang tua serta leluhur.
“Melalui ziarah ini, kami ingin menanamkan kepada anak-anak agar tidak melupakan sejarah keluarga dan tetap menghargai jasa para pendahulu,” tambahnya.
Senada dengan itu, Aqshal Ghava menilai tradisi tersebut memiliki nilai edukatif yang tinggi.
Baca juga: Enam ASN Sumenep Terciduk Berada di Luar Kantor Saat Jam Kerja, Satpol PP Bakal Laporkan ke Bupati
Menurutnya, kebiasaan berziarah saat Lebaran dapat membentuk karakter generasi muda agar lebih menghargai keluarga dan memiliki kesadaran spiritual.
“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga cara membangun kesadaran anak-anak tentang pentingnya doa, menghormati leluhur, dan memahami perjalanan hidup manusia,” ujarnya.
Dengan tetap lestarinya tradisi ini, perayaan Lebaran di Sumenep tidak hanya menghadirkan suasana suka cita, tetapi juga sarat nilai spiritual.
Perpaduan antara silaturahmi dan ziarah kubur menjadi gambaran kuatnya budaya serta ajaran keagamaan yang masih terjaga di tengah masyarakat.
Editor : Wahyudi