KLIKJATIM.Com | Gresik—Kapal Giliiyang tujuan Gresik-Bawean berlayar lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan. Akibatnya, lima orang perawat, seorang pasien beserta obat-obatan gagal berlayar.
Sesuai jadwal Kapal Giliiyang itu lepas kangkar dari Pelabuhan Gresik pukul 13.00, Jumat (1/5/2020). Namun, baru pukul 11.00 kapal sudah berlayar lebih dulu. Pihak perusahaan kapal beralasan, kapal saat itu sudah penuh dengan tumpangan logistik, agar tidak terlalu sore maka kapal diberangkatkan.
Baca juga: Apresiasi Loyalitas, 78 Personel Polres Bojonegoro Terima Tanda Kehormatan Negara
[irp]
“Karena logistik sudah penuh, agar tidak terlalu sore pukul 11.00 kapal dilepas menuju Bawean oleh KSOP (Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan),” kata Manager Usaha PT ASDP Indonesia Ferry (persero), Eva Mardiany, saat dikonfirmasi klikjatim.com, Sabtu (2/4/2020).
Dikatakan Eva, pihaknya selama masa pandemi covid-19 atau virus corona melanda telah berusaha memberikan pelayanan kepada masyarakat Gresik dan Bawean dalam memobilisasi penyeberangan.
“Jika sebelumnya satu kali dalam seminggu, dioptimalkan sekarang tiga kali dalam seminggu, sejak diberlakukannya lockdown Paciran-Bawean,” terang Eva.
Seluruh kapal penumpang tujuan Pulau Bawean sebenarrya tidak diperbolehkan berlayar selama pandemi virus corona atau covid-19. Hanya kapal yang membawa muatan logistik yang diperbolehkan berlayar. Namun, ada beberapa penumpang yang dikecualikan boleh ikut dalam pelayaran kapal logistik itu, di antaranya pasien rujukan dengan surat keterangan dokter dan tenaga medis atau aparatur sipil negara (ASN) yang memiliki kepentingan.
[irp]
Direktur RSUD Umar Masud Bawean, dr.Toni S Hartanto menyesalkan kebarangkatan Kapal Giliiyang yang lebih awal dari jadwal. Selain itu, juga tidak ada pemberitahuan dari manajemen terkait jadwal kapal diberangkatkan lebih awal.
Baca juga: Petaka Sopir Mengantuk, Xpander Seruduk Motor, PKL, hingga Warung Sembako di Sumenep
“Kalau dari kami (RSUD Umar Masud) ada tiga perawat yang tertinggal. Mungkin yang dua orang dari puskesmas,” katanya.
Dijelaskan Toni, sampai saat ini para perawat masih terlantar di Gresik dengan membawa pasien yang telah selesai dirujuk.
“Sampai sekarang masih di Gresik,” ujarnya.
Sementara itu LSM Bawean Corruption Watch (BCW) menyesalkan keberangkatan Kapal Giliiyang tujuan Bawean itu yang lebih awal dari jadwal. Sebab, kebarangkatan itu dinilai sangat merugikan penumpang.
Direktur LSM BCW, Dari Nazar mengatakan, keputusan yang diambil KSOP dan Kapal Giliiyang itu dianggapnya ngawur. Sebab, dalam rombongan itu juga ada penumpang tenaga medis yang membawa pasien dan obat-obatan.
Baca juga: Anggaran Sampang Dipangkas, Komisi II DPRD Desak Desa Mandiri dan Berhenti Berpangku Tangan
[irp]
“Ini ngawur. Padahal ada penumpang yang sudah dilengkapi surat kesehatan juga,” kecam Dari.
Dijelaskan Dari, ada perawat dari Puskesmas Tambak yang ditugaskan untuk mengambil obat-obatan sebanyak delapan kardus dan alat pelindung diri (APD) covid-19. Padahal obat dan APD itu sangat dibutuhkan di Bawean.
“Pimpinan Puskesmas Tambak dr.Saiful mengeluh dan sangat kecewa atas keberangkatan kapal kemarin siang, karena ada pegawai puskesmas atas nama Survin Arafina yang ditugaskan untuk mengambil obat obatan,” tegas dia. (mkr)
Editor : Redaksi