Bedah Buku Konservasi Elang Jawa, Warga Surabaya Antusias

Reporter : Abdul Aziz Qomar
Peserta bedah buku konservasi Elang Jawa berfoto bersama narasumber (Qomar/Klikjatim.com)

KLIKJTIM.Com | Gresik — Dalam event Climate Change Expo & Forum yang dimulai pada 5 Juli hingga 9 Juli 2023, PT Smelting berkesempatan mengisi dua sesi talkshow dalam event yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tersebut.

Yang pertama yaitu talkshow pengenalan upaya konservasi Elang Jawa melalui bedah buku berjudul "Jelita Penguasa Langit yang Kembali Mengudara di Nusantara Jawa", yang kedua talkshow tentang upaya penanggulangan emisi gas CO2.

Baca juga: Pengurus DPC APSI Gresik Resmi Dilantik, Perkuat Sinergi dengan Polri

Dalam bedah buku pada sesi pertama, puluhan siswa yang didampingi guru dan beberapa wali murid terlihat sangat antusias dalam menyimak materi yang disampaikan narasumber.

Kedua narasumber, yakni Sapto Hadi Prayetno yang merupakan Senior Section Manager General Affairs PT Smelting. Sedangkan narasumber yang kedua adalah kurator satwa Taman Safari Indonesia Eko Windiarto.

Dalam paparannya, Eko Windiarto menjelaskan mengenai asal-usul Elang Jawa, dan kondisi terkini di habitatnya.

"Kondisi Elang Jawa sekarang sangat langka dari segi jumlahnya, makanya sekarang ditentukan sebagai satwa yang dilindungi," ujar Eko.

Nah, berangkat dari kondisi tersebut, PT Smelting terpanggil terlibat dalam upaya konservasi Elang Jawa, bekerjasama dengan Taman Safari Indonesia yang merupakan salah satu lembaga konservasi.

Dijelaskan, proses pengembangbiakan Elang Jawa sangat rumit dan membutuhkan pengetahuan ilmiah yang mumpuni.

"Karena Elang Jawa itu punya sifat-sifat khusus yang harus dipahami," terang Eko.

Mulai dari proses penjodohan, bertelur, menetas, proses membesarkan anakan butuh waktu setidaknya dua tahun hingga siap dilepasliarkan. Namun, tetap diamati dulu mengenai kesiapan Elang yang akan dilepasliarkan tersebut, sehingga harus menjalani proses habituasi.

"Nah salah satu anakan hasil pengembangbiakan ini kita beri nama Jelita, yang menjadi judul Buku Ini," ungkap Eko.

Baca juga: PGN Group Raih Empat PROPER Emas dan Lima Hijau dari KLHK

Baca juga: Smelting Berpartisipasi Dalam Climate Change Expo & Forum yang Diselenggarakan KLHK
[caption id="attachment_123196" align="alignnone" width="300"] Para siswa berfoto dengan narasumber.[/caption]

Sementara itu, Sapto Hadi Prayetno menjelaskan, alasan dibalik terpanggilnya Smelting untuk ikut melakukan konservasi Elang Jawa adalah untuk mengembalikan apa yang sudah dimanfaatkan Smelting selama ini ke alam.

"Smelting sebagai perusahaan yang mengolah material hasil tambang yang diambil dari bumi, berkomitmen mejaga bumi dengan mengembalikan sebagian yang diambil itu ke alam," beber Sapto.

Dijelaskan, dalam konservasi Elang Jawa, PT Smelting membangun kandang pengembangbiakan, pemberian pakan dan bahan sarang, pembangunan pusat perawatan satwa, studi vokalisasi terhadap perilaku reproduksi Elang Jawa, rehabilitasi dan persiapan pelepasan satwa, survei populasi di wilayah konservasi, pendidikan kesadaran masyarakat untuk turut menjaga kelestarian Elang Jawa, pelepasliaran Elang Jawa dan pemantauan.

"Kami juga mengajak masyarakat di sekitar Gunung Gede-Pangrango yang menjadi habitat Elang Jawa untuk turut menjaga kelestarian alam. Kami bentuk Pokdarwis - Pokdarwis untuk menunjang ekonomi desa melalui konsep desa wisata," terang Sapto.

Dia juga mengajak para siswa - siswi yang hadir untuk turut menjaga kelestarian satwa. Sapto mencontohkan, misalkan ada teman atau saudara atau tetangga yang memelihara satwa dilindungi hendaknya diingatkan agar diserahkan ke pihak yang berwenang untuk dikembalikan ke alam.

Baca juga: Transformasi Berkelanjutan Nyata, PLN Group Sabet 46 Penghargaan PROPER Emas dan Hijau 2025

"Itu salah satu contoh, meski kita tinggak di kota yang jauh dari Hutan habitat satwa. Karena kalau ada yang punah, seperti misalnya Elang Jawa maka akan menggangu rantai makanan. Hewan-hewan yang semula jadi makanan Elang Jawa akan menjadi hama yang merugikan manusia juga," tandas Sapto.

Dalam sesi pertanyaan, tak hanya peserta dewasa yang bertanya, beberapa siswa yang masih anak-anak turut bertanya mengenai Elang Jawa. Karena mereka penasaran dengan wujud fisik burung yang dianggap perwujudan Burung Garuda tersebut.

Septriana, salah satu siswa SMP bertanya butuh berapa tahun Elang Jawa anakan yang dikembangbiakkan bisa dilepasliarkan ke alam.

Atas hal itu, Eko Windiarto menjelaskan bahwa anakan yang sudah dua tahun akan diuji dulu melalui proses habituasi. Untuk siap dilepasliarkan harus memenuhi beberapa kriteria, seperti jarang terbang, waktu lama terbang, kemampuan mencari mangsa hidup dan lainnya.

"Kalau belum siap yang tidak dilepas dulu, makanya perlu dihabituasi," jelas Eko. (qom)

Editor : Abdul Aziz Qomar

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru