KLIKJATIM.Com | Surabaya -Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau kepada masyarakat perlunya mewaspadai cuaca ekstrem, khususnya hujan lebat pada masa peralihan hingga awal musim hujan 2021-2022.
[irp]
Baca juga: Libur Sekolah Tiba, Tiket Kereta Api di Daop 9 Jember Ludes Terjual Lebih dari 118 Ribu
Hal iniberpotensi menimbulkan banjir bandang, longsor, sedimentasi waduk dan perlunya persiapan inspeksi struktur bangunan dan jaringan.
Kepala Stasiun Klimatologi Malang, Anung Suprayitno SSi, Kamis (2/9/2021) mengatakan, untuk wilayah Jawa Timur masa peralihan akan terjadi pada bulan Oktober curah hujan mencapai 46,7 persen dan terjadi di November curah hujan mencapai 48,3 persen.
"Bagi masyarakat jangan terlalu panik, karena memang di akhir tahun setiap tahunnya aktif masuk musim hujan Muson Asia lebih kuat daripada faktor El Nino," katanya.
Baca juga: Tak Hanya Kopi, Kakao Jatim Jadi Komoditas Bernilai Tinggi dengan Harga Ekspor Fantastis
Lebih lanjut dikatakannya, periode musim hujan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menanamkan luas tanam, melakukan panen air hujan dan mengisi waduk atau danau atau Embung yang berguna untuk periode musim kemarau yang akan datang .
Rekomendasi musim hujan di Jawa Timur yang pertama adalah merujuk belum terpantaunya kekeringan meteorologis kriteria ekstrim dalam skala luas di wilayah Jawa Timur. Hujan baru terjadi di sekitar wilayah tapal kuda dan Madura, ditambah pula pertimbangan potensi awal musim hujan Tahun 2021-2022 yang datang lebih awal atau maju 1-2 dasarian.
Baca juga: Warga Jatim Waspada! BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Tiga Hari ke Depan
Hal ini yang mendasari bahwa belum perlunya dilakukan modifikasi cuaca hujan buatan, termasuk hal ini terutama bagi pengelola waduk dinas yang terkait atau lembaga terkait .
"Memasuki akhir dari musim kemarau dan menjelang atau sudah memasuki pola tanam pada MT-3, pada masyarakat petani tentunya kita harus mendorong kepatuhan mereka terhadap apa yang sudah ditetapkan dalam skenario atau rencana tata tanam agar tidak mengganggu irigasi atau resiko digagal panen," ujarnya. (ris)
Editor : Redaksi