KLIKJATIM.Com | Magetan - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan melakukan isolasi skala mikro di Desa Kediren, Kecamatan Lembeyan. Ini menyusul 47 warga desa setenpat dinyatakan positif covid 19 usai menghadiri tahlilan.
[irp]
Baca juga: Festival Pamelo Strategi Pemkab Magetan Promosikan Jeruk Khas Magetan
"Kami lakukan penyekatan. Isolasi secara mikro. Jadi tidak sembarang orang boleh masuk, " ujar Bupati Magetan, Suprawoto melalui sambungan telepon, Jumat (18/6/2021).
Kang Woto--sapaan akrab--Suprawoto mengatakan, jalur keluar masuk ke Desa Kediran dibatasai hanya 1 pintu. Pintu yang lain ditutup. "Jalan keluar masuk desa yang dibuka hanya satu. Itupun dijaga ketat,” tambah Kang Woto.
Meski melakukan isolasi skala mikro di Desa Kediren, Kecamatan Lembeyan, Kang Woto masih memberikan ijin kepada warg untuk melakukan hajatan. Tetapi catatan seminim mungkin undangannya.
Meski demikian Kang Woto menghimbau masyarakat menunda kegiatan hajatan jika memungkinakan. “ Standar perasionalnya tidak boleh salaman, janan makan disitu, dibawa saja sehingga mengurangi resiko,” pungkasnya.
Sebelumnya, 47 warga Desa Kediran, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan terpapar Virus Covid 19 setelah mereka menjalani tes antigen.
Baca juga: Terindikasi Judi Online, Pemkab Magetan Hentikan 690 Penerima Bansos
Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magetan, Rohmat Hidayat mengatakan puluhan orang itu terpapar setelah menghadiri undangan tahlilan salah satu warga."Warga terpapar karena menghadiri undangan selametan salah satu tetangga," katanya, Kamis (17/6/2021).
Ia menjelaskan, terungkapnya klaster ini setelah yang mengundang warga dinyatakan positif Covid-19 dan kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam (RSI) Aisyah Ponorogo. Pasien menjalani perawatan karena lemas setelah pulang dari perjalanan ke Purwodadi.
"Tanggal 1 Juni pulang dari Purwodadi, tanggal 5 Juni merasakan ada gejala lemas. Tanggal 14 kondisinya sakit dan dirawat di RSI Ponorogo," ujar dia.
Baca juga: Gubernur Khofifah Komitmen Jaga Daya Beli Masyarakat dan Dekatkan Akses Bahan Pokok Terjangkau
Sebelum dirawat di RSI Aisyah Ponorogo, pasien sempat menggelar tahlilan untuk mengenang seribu hari suaminya yang meninggal. Saat menggelar tahlilan itu, pihak tuan rumah disebut telah merasakan gejala sakit di tubuhnya. "Ya seharusnya kalau sudah bergejala jangan mengundang. Lebih baik isolasi mandiri," tegasnya.
Dalam kegiatan tahlilan itu, tuan rumah mengundang 65 orang tetangganya untuk menghadiri acara kenduri. "Ada 65 orang yang menghadiri kenduri dan kontak erat dengan pasien,” terang dia. (rtn)
Editor : Fauzy Ahmad