Peninggalan Zaman Purba, Desa Kamal Jember Simpan Ribuan Batu Megalitikum

klikjatim.com
Batu kenong yang ada di situs Duplang, Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. (ist/Bagus Supriadi/kompas.com)

KLIKJATIM.Com | Jember – Di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Jember, ternyata tersimpan barang yang bersejarah. Banyak ditemukan batu dari zaman megalitikum yang tersebar di berbagai tempat.

[irp]

Baca juga: Perkuat Pendidikan Vokasi, MPM Honda Jatim Kini Miliki 17 TUK Astra Honda Berstandar Industri

Antara lain di areal persawahan, rumah warga hingga halaman kantor desa. Di tempat ini juga terdapat dua situs sebagai tempat menyelamatkan benda bersejarah, yaitu Situs Duplang dan Situs Klanceng. Kini di dalam situs itu tersimpan batu kenong, kubur batu, hingga batu menhir.

Posisi batu-batu tersebut disusun rapi. Bahkan kerap dijadikan sebagai referensi para pelajar untuk belajar sejarah maupun keperluan penelitian.

Lokasi situs Klanceng berada di belakang kantor Desa Kamal atau di tengah pemukiman penduduk. Situs ini telah menghimpun batu kuno hingga sekarang.

Seperti yang dilansir pada laman regional.kompas.com, semula batu sejarah ini dibiarkan begitu saja oleh masyarakat sekitar. Karena tak ada yang tertarik untuk mencuri sebuah batu. Namun seiring perkembangan zaman, banyak batu bernilai sejarah tersebut mulai hilang.

“Tahun 2000 lalu, batu-batu itu dikumpulkan dijadikan satu, jadi Situs Klanceng,” kata Wahyudi, juru pelihara Situs Klenceng kepada Kompas.com, Minggu (2/5/2021).

Keberadan batu tersebut ditempatkan di lahan pekarangan milik Wahyudi. Dan dirinya yang selalu merawat dan membersihkan tempat tersebut.

Dijelaskan, situs ini memiliki 59 batu kenong dengan satu tonjolan dan dua tonjolan. Semua batu tersebut dihimpun dari berbagai lokasi yang ditemukan di Desa Kamal. Mulai dari areal persawahan, pinggir sungai hinggga pemukiman warga.

Untuk batu kenong berukuran kecil dan tidak terlalu berat telah dipindahkan ke lokasi situs. Sedangkan batu yang cukup besar tetap dibiarkan berada di sekitar rumah warga.

“Ini Cuma sebagian kecil yang diamankan, di sawah dan pekarangan warga masih banyak,” tuturnya.

Menurut dia, batu kenong merupakan lambang bentuk persembahan kepada arwah nenek moyang dan menjadi alat pemujaan. Usia batu ini diperkirakan dibuat pada sekitar 4 Masehi.

Lebih rinci terkait makna batu kenong dengan satu tonjolan adalah mengindikasikan sebagai tanda tempat penguburan. Sedangkan batu kenong dua tonjolan merupakan alas bangunan rumah dari kayu.

Baca juga: Gempa M5,1 Guncang Tenggara Jember, Getaran Terasa hingga Banyuwangi dan Malang

Selanjutnya tak jauh dari Situs Klanceng atau sekitar 2,6 kilometer juga terdapat Situs Duplang. Lokasi tepatnya di Dusun Duplang, desa setempat.

Di dalam situs ini lebih banyak batu megalitikum. Situs Duplang disebutkan memiliki koleksi berupa satu kubur batu, tujuh batu kenong dan dua batu menhir atau tugu batu. Semua batu-batu itu ditata dengan rapi layaknya sebuah museum.

Kubur batu merupakan peti mayat dari batu. Empat sisinya berdinding papan batu.

Dalam tempat pemakaman mayat ini terdapat jenazah yang disimpan dalam keadaan terbaring dengan posisi kepala ke arah tempat yang lebih tinggi. Batu itu dibuat sekitar 3.000 tahun silam.

Adapun batu menhir merupakan tugu batu yang didirikan sebagai tanda peringatan untuk melambangkan arwah nenek moyang dan menjadi tempat pemujaan. Batu ini dibuat sekitar 2.000 tahun silam.

“Batu ini memang asli di sini semua, kecuali yang di luar pagar, itu barang sitaan saya dari luar,” ungkap juru pelihara situs Duplang, Abdul Rahman.

Baca juga: Perkuat Semangat Kebersamaan Iduladha, MPM Honda Jatim Salurkan Puluhan Hewan Kurban

Dia mengaku sudah memelihara situs tersebut sekitar sejak 1987. Yaitu meneruskan leluhurnya untuk merawat situs tersebut.

Pesan dari kakeknya dulu, batu tersebut agar dijaga dan tidak dirusak. Sebab batu itu merupakan peninggalan zaman purba.

“Supaya anak cucu kita tahu kalau di sini ada peninggalan zaman purba,” lanjutnya.

Awalnya Batu Kenong ini telantar dan tidak tertata. Kemudian dirapikan dan diberikan pagar pada tahun 1996.

Untuk jumlah batu megalitikum di Desa Kamal diperkirakan mencapai ribuan. Namun ada yang terpendam dan berserakan di berbagai tempat seperti di pingir sungai, tengah sawah, dan lainnya.

“Jumlahnya bisa mencapai ribuan kalau dikumpulkan,” tutu Abdul Rahman. (kps/nul)

Editor : Redaksi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru