KLIKJATIM.Com | Banyuwagi—Pedagang dan pengepul jeruk nipis di Kabupaten Banyuwangi terpaksa membuang jeruk nipis. Setiap hari jeruk nipis yang dibuang cuma-cuma itu bisa mencapai 2 ton.
[irp]
Baca juga: Lindungi Hak Sipil Warga, 41 Pasangan di Lamongan Ikuti Isbat Nikah Terpadu 2026
Dibuangnya jeruk nipis itu akibat kualitasnya menurun dan membusuk. Sebab, harga jeruk nipis di pasaran sangat murah. Saat ini harganya berada di titik terendah Rp 500 perkilogram.
“Ya, kalau pas banyak barang di sini menumpuk. Kalau terlalu lama di ambil oleh tengkulak besar ya hasilnya pasti banyak yang rusak. Kemudian kita akan sortir lagi, sisanya kita buang,” ungkap Robet Saputra salah seorang pedagang dan pengepul jeruk nipis di Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Selasa (9/3/2021).
Kadang, kata Robet, pihaknya sampai kewalahan karena banyaknya jeruk nipis yang kondisinya menurun dan rusak. Dibuang sayang, dijual tidak laku.
Baca juga: Riding Malam Hari? Perhatikan Enam Poin Penting Ini Agar Tetap #Cari_Aman di Jalan
“Kadang membuang saja kita itu susah. Di tempat sampah belakang rumah sudah penuh. Kadang kita berikan ke orang kalau ada yang mau terserah tinggal ambil. Kalau sudah begini dimakan gak bisa, dibuat minuman juga terlalu banyak. Jalan satu-satunya ya dibuang saja,” terangnya.
Menurutnya, turunnya harga jeruk nipis dikarenakan jumlah pembelian di pasar pengiriman yang menurun. Ditambah cuaca hujan juga menjadi salah satu kendala.
“Di sini jumlah panennya juga banyak. Pasar tidak mampu menampung. Apalagi banyak lokasi pengiriman saat ini hujan deras dan banjir. Sehingga pembelian juga ikut turun,” katanya.
Baca juga: Menaker: Perjanjian Kerja Bersama Jadi Pijakan Perkuat Hubungan Industrial dan Produktivitas
Sementara itu, Rumini salah seorang petani menyebut dirinya lebih memilih membiarkan buah jeruknya jatuh dari pohon dari pada memetiknya. Karena, hasil panen tidak setara dengan harganya.
“Harga jeruknya murah, panennya susah banyak durinya. Kalau malas ya kita biarkan saja jatuh di pohon,” pungkasnya. (ris)
Editor : Redaksi