Bangkai Perahu di Sungai Bengawan Solo Peninggalan Kolonial

Reporter : Wahyudi
Tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim saat melakukan observasi secara langsung di lokasi temuan perahu kuno di sungai Bengawan Solo di Desa Mertani Kecamatan Karanggeneng Lamongan. (Achmad Bisri/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Lamongan - Surutnya air  Bengawan Solo di kawasan Desa Mertani Kecamatan Karanggeneng Lamongan, sempat menjadi perhatian warga sekitar. Pasalnya masyarakat menemukan tiga bangkai perahu baja yang diduga berasal dari zaman kolonial. “Saat itu saya sedang berada di pinggir sungai, saya kaget karena ada benda yang menyembul ke permukaan, lalu saya lihat dari dekat," kata salah satu warga Mohammad Amam, Jumat (11/10/2019).

Menurut  Amam, warga menemukan 3 perahu berbahan baja yang lokasinya berdekatan. Pada saat itu dirinya berada di pinggir sungai melihat dari dekat kondisi surutnya air Bengawan Solo, tanpa sengaja melihat sesuatu yang terlihat seperti potongan besi menyembul dari sungai.

Baca juga: Honda DBL 2026 East Java – North Bergulir, MPM Honda Jatim Hadirkan Kompetisi dan Aktivitas Seru untuk Generasi Muda

[irp]

Temuan perahu baja yang diduga berasal pada masa kolonial ini langsung di tindaklanjuti oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim mengobservasi ketiga perahu itu pada Kamis (10/10/2019) kemarin.

Hasilnya, BPCB menilai temuan tiga perahu baja berukuran panjang antara 4-5 meter dan lebar sekitar 1,5 meter hingga 2 meter. Diduga berasal dari zaman kolonial itu memiliki nilai sejarah dan merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Lamongan untuk melakukan pengangkatan.

Baca juga: PLN UP2B Jawa Timur Gandeng Media Perkuat Pemahaman Publik tentang Pengelolaan Sistem Kelistrikan

[irp]

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan Ismunawan mengatakan saat ini pihaknya masih terkendala alat berat dan tenaga ahlinya. Perlu diadakan koordinasi dengan dinas terkait untuk mempermudah proses evakuasi.

“Karena terpendam lumpur, dan sudah pernah diupayakan warga untuk diangkat secara manual ternyata tak sanggup, maka solusinya adalah pengangkatan perahu menggunakan alat berat, semacam crane atau backgo,” tutur Ismunawan, Jumat (11/10/2019)

Baca juga: Blitar BerStylo Bersama: Pererat Kebersamaan Pengguna New Honda Stylo 160

Dalam waktu dekat, kata Ismunawan akan segera dilakukan pengangkatan ke permukaan untuk bisa dilakukan observasi secara detail. Diperkirakan perahu ini ada dari masa perang sebelum perang kemerdekaan.

"Sekarang kami masih penjajakan dg dinas lain yang mungkin bisa membantu untuk proses evakuasi," terang Ismunawan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan. (bis/rtn)

Editor : Wahyudi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru