KLIKJATIM.Com | Jakarta - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mencatat pertumbuhan industri makanan dan minuman selama 2020 hanya berkisar 1-2 persen. Hal tersebut berbeda dengan proyeksi Kementerian Perindustrian.
[irp]
Baca juga: Pilkades Serentak 2021, Pengguna Hak Pilih Wajib Prokes
"Pertumbuhan kami minimal 1-2 persen pada 2020, ini karena berbagai pertimbangan. Namun, kalau tahun 2021 saya sepakat paling sedikit (tumbuh) 5 persen atau di (kisaran) 7-9 persen," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman.
Kementerian Perindustrian sendiri memproyeksikan industri makanan pada 2020 akan tumbuh hingga 3,06 persen, sedangkan industri minuman akan minus 2,55 persen. Dengan kata lain, pertumbuhan rata-rata industri makanan dan minuman hanya akan mencapai 0,51 persen.
Sedangkan untuk 2021, Kemenperin meramalkan pertumbuhan industri makanan dapat mencapai 4,49 persen, sedangkan itu industri minuman dapat tumbuh hingga 4,39 persen. Artinya, Kemenperin meramalkan industri makanan dan minuman hanya dapat tumbuh sekitar 4,44 persen pada 2021.
Baca juga: Terbaru, Magic Lightening Premium Diamond 1 Glowing Bisa Atasi Masalah Jerawat Wajah
Adhi menilai bahwa pelaku industri makanan dan minuman lebih optimistis melihat proyeksi pertumbuhan 2021. Pasalnya, laju pertumbuhan lapangan usaha industri makanan dan minuman pada kuartal IV 2020 akan kembali meningkat dari realisasi kuartal III 2020 di level 0,66 persen.
"Perhitungan yang dilakukan pemerintah belum final, baru proyeksi. Bisa saja naik turun. Kita tunggu saja Januari 2021," katanya.
Adhi menyampaikan bahwa proyeksi pertumbuhan 7 persen pada 2021 dapat terjadi dengan catatan penanganan Covid-19 yang lebih baik.
Baca juga: BI : Inflasi Hingga Minggu III Agustus Masih Terkendali
Menurutnya, aktivitas perekonomian dan mobilitas masyarakat dapat pulih jika penyebaran Covid-19 dapat diatasi dengan program imunisasi vaksin Covid-19.
Terpuruknya industri makanan dan minuman pada kuartal II 2020 terjadi karena dua hal, yakni terbatasnya daya beli pada segmen menengah bawah dan rendahnya keyakinan konsumen pada segmen menengah atas. Adhi berujar hal tersebut seharusnya dapat diatasi dengan program vaksinasi Covid-19. (hen)
Editor : Wahyudi