KLIKJATIM.Com | Surabaya - Sebanyak 19 kota/kabupaten di Jawa Timur (Jatim) sempat berhasil melangkah ke zona kuning atau risiko rendah dalam kasus Covid-19. Sayangnya, keberhasilan itu tidak bisa dipertahankan karena 6 daerah di Jatim kembali menempati status zona oranye atau risiko sedang penularan Covid-19.
[irp]
Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair, Dokter Windhu Purnomo mengatakan, sebenarnya warna oranye itu hampir sama dengan merah. “Zona oranye itu sebenarnya risiko penularannya tidak jauh berbeda dengan zona merah. Hanya sedikit lebih rendah. WHO tidak mengenal oranye, hanya merah, kuning, dan hijau,” kata Dokter Windhu seperti yang dilansir suarasurabaya.net, Sabtu (7/11/2020).
Dengan turunnya jumlah daerah berstatus kuning di Jatim dari 19 ke 13 kota/kabupaten, telah mebuktikan bahwa belum saatnya menganggap Covid-19 ini segera selesai. Karena dari perbandingan masyarakat yang terjangkit Covid-19, dengan total penduduk Jatim juga belum menunjukkan kemungkinan munculnya herd immunity (kekebalan kelompok).
“Herd immunity itu muncul kalau 70 persen jumlah penduduk sudah terjangkit. Jatim ini yang terdeteksi baru 54 ribu orang,” ujarnya seraya mengakui kasus Covid-19 seperti gunung es.
Dia berharap, masyarakat tetap melaksanakan semua anjuran pemerintah dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes). Bersamaan dengan itu Pemprov Jatim juga harus meningkatkan testing dan tracing.
Juru Bicara Satgas Covid-19 Jatim, Dokter Makhyan Jibril menuturkan, faktor terjadinya penurunan status zona kuning di Jatim karena adanya target baru dari Satgas Pusat. Yaitu Satgas Pusat menerapkan target baru penerapan tes Covid-19 dengan metode swab test-PCR dalam jangka waktu mingguan.
“Target dari pusat itu 40 ribu tes PCR setiap minggu. Jatim memang belum memenuhi meskipun sudah meningkat. Rata-rata antara 25 ribu sampai 30 ribu dalam seminggu,” ujarnya.
Tidak cukup hanya di tingkat provinsi. Namun target test juga diterapkan per daerah di Jatim. Karena itulah sejumlah daerah yang tadinya kuning kembali berwarna oranye.
“Karena sejumlah daerah di Jatim dianggap belum memenuhi target ini. Ada sejumlah perubahan memang dalam 15 indikator penentuan peta risiko itu,” pungkasnya. (nul)
Editor : Abdul Aziz Qomar