klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Tiga Tantangan Indonesia di Tengah Pandemi, Wakil Ketua MPR Sebut Dunia Pendidikan Kurang Dipedulikan

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Wakil Ketua MPR-RI, Jazilul Fawaid saat mengikuti peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 75 di Kantornya, Jakarta. (Miftahul Faiz/klikjatim.com)
Wakil Ketua MPR-RI, Jazilul Fawaid saat mengikuti peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 75 di Kantornya, Jakarta. (Miftahul Faiz/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik – Wakil Ketua MPR, Jazilul Fawaid mengungkapkan bahwa semarak HUT RI ke 75 pada tahun ini berbeda dibandingkan sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Tahun-tahun sebelumnya pada bulan Agustus di tengah masyarakat terjadi kesemarakan luar biasa di berbagai jalan, gang, dan setiap rumah dipasang bendera merah putih, bahkan juga sibuk mempersiapkan diri mengadakan berbagai lomba hingga karnaval yang meriah.

Namun pada 17 Agustus 2020 ini tak dipungkiri bahwa pandemi Covid-19 masih mengungkung beberapa wilayah dan kota di Indonesia. Sehingga kemeriahan yang ada setiap bulan Agustus bisa saja tidak terjadi di wilayah dan daerah yang masih masuk zona merah.

“Meski demikian jangan sampai semangat kemerdekaan kita berkurang sedikitpun. Kita harus tetap semangat dalam kondisi apapun,” ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut di Jakarta melalui siaran persnya kepada klikjatim.com, Senin (17/8/2020).

Digambarkannya, dulu para pahlawan berkorban dalam suasana yang juga membahayakan diri dan keluarga. Tapi mereka tetap bersemangat dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Jazil, dalam situasi di tengah masa pandemi ini ada tiga tantangan bangsa Indonesia. Pertama adalah darurat kesehatan. Karena semua tidak tahu berakhirnya wabah ini. “Saat ini dunia menunggu vaksin,” ungkapnya.

Tantangan kedua masalah perekonomian. Kini, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk menangani masalah tersebut.

[irp]

Ketiga, dan yang tidak boleh dilupakan adalah dunia pendidikan. “Saya menyebut pemerintah kurang peduli dalam masalah pendidikan dibanding dengan masalah kesehatan dan ekonomi,” ujarnya.

Dalam masa pandemi diakui, siswa sekolah menempuh pembelajaran jarak jauh, (PJJ). “Namun seberapa efektif cara itu,” lanjutnya.

Putra daerah Pulau Bawean itu pun mengandaikan, Indonesia bisa pulih dan tumbuh perekonomiannya. Bagaimana bila ekonomi membaik, namun generasi yang ada tidak mendapat pendidikan yang memadai? “Kita ingin menjadi bangsa yang kuat ekonomi, otak cerdas, dan berbadan sehat,” tegas Gus Jazil.

Diakui, ketiga hal tersebut dialami oleh banyak negara. Bahkan mereka sekarang sedang mencari metode khusus untuk menangani semua ini.

Lebih lanjut, dalam bidang kesehatan dan perekonomian pemerintah sudah jelas kebijakannya. Namun dalam dunia pendidikan belum melihat secara nyata. “Hanya melihat PJJ,” tuturnya.

PJJ yang ada dikatakan hanya diikuti 30 persen dari 86 juta peserta dididk. Artinya, kondisi ini darurat pendidikan. Apalagi selama satu semester sudah tidak ada pendidikan. Nah, hal demikian harus segera ada sikap, tindakan, dan kebijakan. “Kita tidak tahu kapan pandemi berakhir. Kalau selama satu tahun dunia pendidikan tutup, dalam arti tidak ada kebijakan baru, tidak ada metode baru, tentu akan ada masalah buat anak didik kita ke depan,” paparnya.

[irp]

Pemerintah diharapkan melakukan langkah-langkah penting dalam dunia pendidikan. “Saya mengingatkan kepada pemerintah jangan abai kepada sektor pendidikan. Perlu ada kurikulum baru dalam masa pandemi. Meski ada PJJ, tapi hal demikian banyak tantangannya. Ada guru yang belum akrab dengan gadget, dan PJJ selama ini saya kira hanya untuk mengingatkan agar para siswa belajar,” jelasnya.

Lalu, dalam masalah ekonomi pemerintah sudah membentuk Tim Pemulihan Ekonomi Nasional. Secara fakta memang tidak ada harapan perekonomian tumbuh. Hal demikian tidak hanya dialami Indonesia, namun juga dunia.

Tapi, yang paling penting dilakukan adalah menahan agar perekonomian tidak jatuh. Sehingga perlu melakukan berbagai upaya agar perekonomian tidak terjun bebas menjadi lebih minus. Diakui memang sulit perekonomian tumbuh, meski pemerintah sudah memiliki skema-skema di bidang perekonomian, perbankan, UMKM, dan bagi-bagi sembako

Dia menyebut perekonomian tidak tumbuh tidak apa-apa, karena semua negara tidak mempunyai kekuatan untuk tumbuh. “Minimal perekonomian kita stabil dan tidak minus. Paling penting juga adalah bagaimana jangan sampai rakyat kelaparan,” harapnya. (nul)

Editor :