KLIKJATIM.Com I Lamongan – Bagi seorang Didik Ludianto, doa orang tua adalah kunci utama sukses seorang pemain bola. Bagi asisten Pelatih Persela ini, aspek doa paling penting dari semuanya. Terutama doa dari orangtua," tegas Didik Ludianto seperti dilansir Bola, Minggu (9/08/2020).
[irp]
Didik di Jawa Timur, sudah tidak diragukan lagi keampunya. Kejeliannya dalam memilih pemain telah teruji. Persela Lamongan meraih trofi juara ISL U-21 pada musim 2010-2011.
Atas prestasinya ini Didik dipromosikan menjadi asisten pelatih tim senior Persela mulai musim 2011-2012. Ia pun pernah mendampingi sejumlah pelatih seperti Miroslav Janu, Stefan Hansson dan Gomes de Oliveira.
[irp]
Terakhir pada Liga 1 2020, ia menjadi asisten Nilmaizar. Dalam kurun waktu itu, Didik pernah jadi carateker pelatih mengantikan peran Gomes de Oliveira pada 2012-2013.
"Saya mendampingi tim sebanyak 29 partai," ujar pelatih yang terakhir mengikuti kursus kepelatihan lisensi A-AFC ini pada Jigrang Channel.
Selama di Persela, nama Didik lebih dikenal sebagai pelatih yang sukses mengorbitkan pemain muda. Di antaranya Fandi Eko Utomo, Fahmi Al Ayyubi, Birul Walidain, Dendi Sulistiawan, Ahmad Nur Hardianto dan sejumlah nama lain.
[irp]
"Saya ini cuma pelatih yang beruntung saja. Bisa mendapatkan pemain yang bukan hanya bartalenta tapi juga punya kemauan kuat menjadi pemain," terang Didik.
Menurut Didik dalam membina pemain muda, ia selalu menekankan prinsip OMOD (otak, mental, Otot dan Doa) sebagai modal sukses berkarier di sepak bola.
Otak berperan vital karena terkait teknik, skill dan pemahaman taktik di lapangan. Sedangkan mental dibutuhkan pemain menghadapi situasi dan tekanan baik dalam maupun luar lapangan. Sementara Otot kaitannya dengan fisik dan stamina.
"Karena percuma saja bila pemain memiliki teknik dan bakat tanpa ditunjang mental serta sikap yang baik," papar Didik.
[irp]
Sebelum menjadi pelatih terlama di Lamongan, Didik termasuk pemain yang dibesarkan Persela. Meski berasal dari Bojonegoro, Didik sangat lekat dengan Persela sejak resmi berkostum tim Laskar Joko Tingkir pada musim 2000.
"Sebelumnya saya bermain di klub amatir di Surabaya. Setelah medapat kabar ada seleksi di Persela, saya ikut dan alhamdulillah lolos," kata Didik.
Bermain di Persela jadi berkah tersendiri buat Didik. Setelah membawa Persela promosi ke Divisi 1, ia mendapat tawaran menjadi PNS di Pemda Lamongan yang dilakoninya sampai saat ini di luar kesibukannya sebagai asisten pelatih.
"Saya beruntung bisa bergabung di Persela di mana karier sebagai pelatih dan PNS bisa berjalan bersama," ujar ayah dari tiga anak ini.
[irp]
Meski kini bertugas di tim senior, Didik mengaku tetap intens mengikuti perkembangan pembinaan pemain muda di Persela. Itulah mengapa disela-sela waktu luangnya, Didik kerap memenuhi undangan melakukan coaching clinic pada sejumah sekolah sepakbola di Lamongan.
Didik berpesan kepada pelatih SSB agar jangan pernah berkecil hati dalam membina pemain. “Yang penting fokus dan tekun dalam mengembangkan bakat pemain. Karena membina pemain di SSB jauh lebih sulit dibanding melatih level klub," pungkas Didik. (rtn)
Editor : Wahyudi