klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Covid-19 di Jatim Mirip Flu Spanyol Hilangkan 23 Persen Populasi Warga Madura 100 Tahun Silam

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Kepala BNPB Letjend Doni Monardo mengingatkan warga Jawa Timur dan Surabaya tentang kematian akibat flu spanyol 100 tahun silam mayoritas terjadi di Jawa Timur.
Kepala BNPB Letjend Doni Monardo mengingatkan warga Jawa Timur dan Surabaya tentang kematian akibat flu spanyol 100 tahun silam mayoritas terjadi di Jawa Timur.

KLIKJATIM.Com | Surabaya - Belajar dari sejarah, kematian akibat Covid-19 di Jawa Timur mirip yang terjadi 100 tahun lalu kala flu spanyol menwabah di Jawa Timur. Saat itu sekitar tahun 1918, 23 persen populasi warga Madura meninggal dunia karena wabah flu spanyol. Secara nasional, flu spanyol menewaskan 4,5 juta warga Indonesia yang saat itu masih dikuasai Pemerintah Kolonial Belanda.

[irp]

"Jadi saat flu spanyol melanda Tanah Air sekitar tahun 1918 ketika Indonesia masih dikuasai pemerintah kolonial, korbannya cukup besar. Saat itu 4,5 juta warga meninggal dunia akibat flu spanyol. Dari jumlah itu, yang paling banyak dialami warga Madura. Sekitar 23 persen populasi warga Madura meninggal dunia. 23 persen itu bukan dari yang terpapar, tapi dari populasi," kata Kepala BNPB Letjend Doni Monardo saat Rakor bersama Gugus COVID-19 Jatim di Hotel Inna Simpang, Surabaya, Kamis (16/7/2020).

Selain Madura 23 persen populasi, wilayah lain terjadi di Kediri 20 persen populasi meninggal akibat flu spanyol. Kemudian Surabaya 17,54 persen, Pasuruan 14,32 persen lalu Madiun 7,31.

Dikatakan, kejadian flu spanyol hampir mirip dengan yang terjadi saat ini. Jumlah positif Covid secara nasional didominasi dari Jawa Timur. Hingga kini pasien positif COVID-19 di Jawa Timur mencapai 17.574 kasus. Untuk angka kematian, Jatim juga tertinggi dengan 1.301 angka kematian.

Belajar dari pandemi flu spanyol 100 tahun lalu, Doni menjelaskan bahwa COVID-19 belum tentu ditemukan vaksin dan obatnya. Apalagi Flu Spanyol saat itu hilang begitu saja. "Mencermati kasus 100 tahun lalu, dan hari ini tentang COVID-19 yang kita tidak tahu apakah akan berhasil adanya vaksin dan obat. Karena Flu Spanyol setelah terjadi hingga hari ini tidak ditemukan vaksinnya, hilang begitu saja," jelasnya.

[irp]

Kepala BNPB ini menyampaikan, agar masyarakat Indonesia harus siap dengan kemungkinan terburuk bahwa vaksin dan obat tidak ditemukan. "Kita pun harus mempersiapkan diri menghadapi situasi terjelek. Saya mengingatkan kepada seluruh bangsa Indonesia, agar tidak menganggap enteng COVID-19 ini," katanya.

Menurutnya, tidak ada kata terlambat. Mari belajar dari masa lalu, jangan biarkan rakyat kita terpapar COVID-19. Jangan sampai warga kita sakit, baik sakit sedang hingga berat. COVID bukan rekayasa, COVID bukan konspirasi. COVID ibaratnya malaikat pencabut nyawa. (hen)

Editor :