klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Lembaga Bimbingan Belajar Bisa Gulung Tikar

avatar Wahyudi
  • URL berhasil dicopy
Dua peserta didik LBBC mengenakan masker saat mengikuti kegiatan bimbingan belajar. (arifin/klikjatim.com)
Dua peserta didik LBBC mengenakan masker saat mengikuti kegiatan bimbingan belajar. (arifin/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Lembaga bimbingan belajar masih terpuruk di masa transisi menuju era normal ini.  Aktivitas belajar mengajar belum nampak lantaran tak adanya peserta didik. “Isu yang terlalu menakutkan, membuat orang tua tidak berani mengkursuskan anaknya.

Walaupun sudah menerapkan protokol kesehatan,” Kata  Ketua Lembaga Bimbingan Belajar Cendikia (LBBC) Kota Surabaya Nasith Nasirul Hakim saat ditemui di Wonocolo Pabrik Kulit No 56, Senin (22/6)

[irp]

Diakuinya, LBBC sampai saat ini  tidak mendapatkan peserta didik. Padahal pihak lembaga telah menerapkan protokol kesehatan dalam proses pengajarannya.

Padahal sebelum adanya covid-19 lembaganya bisa membimbing perserta didik 20-30 siswa per harinya. Namun saat ini hanya 2 peserta didik dalam satu minggu.

[irp]

Sedangkan,saat ini lembaga kursus Cendikia menampung 50 pelajar Sekolah Dasar (SD), 30 Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 20 Sekolah Menegah Atas (SMA).

Di lembaga kursus Cendikia ini terdapat 100 tenagga pengajar dan masing-masing mereka digaji dengan tarif siswa yang dibimbingnya. Untuk Pengajar tingkat Sekolah Dasar Digaji 500 per bulan, sekolah menengah pertama 750 ribu, dan sekolah menegah atas 1 juta.

Ketika ditanya sudah mendapat perhatian dari Pemeritah Kota Surabaya. Nasit sebagai Ketua lembaga menjawab, Belum mendapat arahan dari Pemeritah dan juga bantuan pun tidak ada.

[irp]

“ Belum ada sama sekali, baik bantuan maupun arahan,” ungkapnya.

Selain itu, Widi Astuti salah satu orang yang mengkursuskan anaknya di lembaga tersebut mengatakan, takut ketika ia membimbing kan belajar di Lembaga itu. Pasalnya, khawatir anaknya nanti terpapar covid-19.

“Ya takut mas, nanti kalo terkena covid engak repot saya,” ungakap Astuti.

Ia mengungkapkan, tidak bisa membiarkan anaknya les privat di lembaga tersebut sampai pandemi covid-19 sudah tidak ada lagi.

“Sampai pandemi selesai, mungkin anak saya tidak saya leskan,” pungkasnya.(fin/rtn)

Editor :