klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

IDI Jatim Sarankan Surabaya Raya Perbanyak Rapid Tes dan PCR

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Mobil PCR milik BNPB saat melakukan tes massal di wilayah Jawa Timur beberapa waktu lalu.
Mobil PCR milik BNPB saat melakukan tes massal di wilayah Jawa Timur beberapa waktu lalu.

KLIKJATIM.Com | Surabaya - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jatim menyarankan pemerintah daerah (Pemda) di Surabaya Raya memperbanyak intensitas pemeriksaan warganya untuk memantau sekaligus mencegah penularan Covid-19. Pemeriksaan secara masif itu bisa rapid test maupun Polymerase Chain Reaction (PCR).

[irp]

“Kuratif dan perawatannya juga harus bagus. Tracing (pelacakan) juga harus efisien dan tepat. Dengan itu nanti baru bisa mengatasi angka kasus yang terus naik. Jadi bukan PSBB,” kata Sutrisno Ketua IDI Jatim kepada wartawan, Minggu (21/6/2020).

Dikatakan, pemerintah Surabaya Raya juga perlu memaksimalkan peran kampung tangguh yang menurutnya akan sangat efektif untuk mengedukasi masyarakat untuk mengoptimalkan penanganan. “Gerakkan dari unit terkecil, mulai RT, RW, dan kampung, kalau bisa diefektifkan. Saya yakin berhasil. Para tokoh lokal harus berani mendisiplinkan warga dan melarang orang keluar masuk dengan bebas dan melarang kumpul-kumpul,” ucapnya.

Yang tidak kalah pentingnya, ujat Sutrisno, adalah pengawasan pada masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. “Isolasi mandiri harus betul-betul diawasi dan kalau perlu dibantu kebutuhan hidupnya. Jadi Kampung tangguh ini menurut saya harus dioptimalkan agar warga disiplin protokol Kesehatan,” katanya

[irp]

Dikatakan, peningkatan kedisplinan penerapan protokol kesehatan di Surabaya Raya lebih penting dari penerapan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Penerapan kembali PSBB di Surabaya Raya tidak perlu dilakukan walaupun jumlah kasus Covid-19 terus meningkat, terutama di Kota Pahlawan.

Daripada menerapkan kembali PSBB, peningkatan kepatuhan masyarakat untuk menggalakkan protokol kesehatan seperti memakai masker, cuci tangan, menjaga jarak, dan tidak berkerumun, lebih efektif. “Jadi menurut saya yang paling penting adalah kedisiplinan masyarakat. Walaupun ada PSBB tapi masyarakat tidak disiplin protokol kesehatan, ya, sama saja,” kata Sutrisno.

Berdasarkan hasil evaluasi epidemiolog, kepolisian, juga kalangan independen menunjukkan, tingkat kedisiplinan masyarakat soal penerapan protokol kesehatan masih sangat rendah. “Hal itu lah yang bikin kasus ini terus naik mendekati Jakarta. Bahkan kematian lebih tinggi daripada Jakarta,” lanjutnya. (hen)

Editor :