KLIKJATIM.Com | Sumenep - Menemukan pesepak bola berbakat tidak cukup dengan menunggu mereka tumbuh besar. Kabupaten Sumenep, Madura, mulai mendorong pola pembinaan sejak bangku sekolah dasar agar potensi pemain muda tidak berhenti sebagai bakat yang hanya muncul sesaat di lapangan.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo menegaskan, pentingnya membangun jalur pembinaan sejak usia dini. Pesan itu disampaikan saat membuka turnamen mini soccer U-13 yang diikuti 23 tim dari Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) jenjang sekolah dasar se-Kabupaten Sumenep di GOR A. Yani.
Bagi Fauzi, kompetisi anak-anak tak seharusnya terjebak pada urusan menang atau kalah. Justru dari pertandingan seperti inilah kemampuan dan karakter pemain mulai terlihat dan dapat dipantau untuk pembinaan berikutnya.
Ia meminta para pemain tampil serius, tetapi tidak menjadikan hasil pertandingan sebagai beban. Keberanian mencoba, menerima kekalahan, dan memperbaiki kemampuan dinilai jauh lebih penting dalam tahap awal pembentukan seorang atlet.
"Bagi saya, mini soccer ini bukan hanya sekadar siapa yang menang, siapa yang mencetak gol, atau siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan seperti ini merupakan bagian dari proses pembinaan generasi muda melalui olahraga sepak bola. Jangan takut kalah. Yang paling penting adalah berani bermain, berani berusaha dan terus belajar menjadi lebih baik. Jangan ada gesekan, jangan ada perkelahian. Ini sepak bola," kata Fauzi memaparkan, Kamis (1/10).
Turnamen U-13 tersebut hanya berlangsung tiga hari. Namun, pemerintah daerah ingin hasil dari kompetisi itu tidak ikut berakhir ketika pertandingan final selesai.
Fauzi menyebut talenta yang muncul pada kelompok usia tersebut perlu dipetakan dan dikembangkan secara berkelanjutan. Dengan demikian, kompetisi tidak berhenti sebagai agenda olahraga tahunan, tetapi menjadi bagian dari jalur pencarian dan pembinaan pemain muda.
"Pemerintah daerah hari ini memang berpikir serius bagaimana agar generasi muda dari U-13 ini, meskipun memang mini soccer, harapannya nanti ada bibit-bibit yang berpotensi menjadi atlet sepak bola yang ke depannya bisa diandalkan," ujarnya.
Persoalannya, membentuk pemain tidak bisa dilakukan secara instan. Kemampuan teknis dan karakter, menurut Fauzi, membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Karena itu, pembinaan idealnya dimulai ketika pemain masih berada di tingkat sekolah dasar.
"Kalau tidak kita persiapkan dari tingkat SD, secara kemampuan dan karakter dalam bermain itu agak susah dibentuk dalam pembinaan. Maka yang kita harapkan dari SD sudah mulai ada pesepak bola yang bisa kita bina ke depannya untuk jangka panjang. Tahun ini kita coba jenjangkan, dari mini soccer U-13 terus sampai U-17. Harapannya memang muncul pemain-pemain yang sangat siap di Kabupaten Sumenep untuk terus diperhatikan secara profesional," ucapnya menuturkan.
Rangkaian pembinaan itu kini hendak diarahkan secara bertahap, dari U-13 menuju U-17. Tantangannya bukan semata menemukan anak yang punya kemampuan mengolah bola, tetapi memastikan mereka tetap mendapat ruang latihan, kompetisi, pemantauan, dan pembinaan setelah turnamen selesai.
Dengan pendekatan tersebut, mini soccer U-13 di Sumenep menjadi lebih dari sekadar perebutan gelar juara. Lapangan sekolah dasar menjadi titik awal untuk melihat apakah bakat-bakat muda itu kelak benar-benar mendapat jalan menuju sepak bola yang lebih serius.
Editor : Wahyudi