KLIKJATIM.Com | Bangkalan – Tanaman nyamplung yang banyak tumbuh di sekitar Desa Langkap, Kabupaten Bangkalan, menjadi pintu bagi lima siswa MIS Ar-Raudlah Langkap untuk menembus kompetisi karya ilmiah tingkat internasional di Malaysia.
Penelitian tentang potensi tanaman tersebut mengantarkan Sinta Qonita, Eriva Aqla Mahira, Ariyana Gita El Zahara Asyari, Nala Fitriyani, dan Rajwa Rizqiyatul Aini meraih medali emas dalam kompetisi di SEGi University, Malaysia.
Kelima siswa yang duduk di kelas 5 dan 6 itu mengikuti kompetisi kategori Applied Physics and Engineering pada 21 September 2026. Ajang tersebut diikuti peserta dari 12 negara.
Medali emas diumumkan dua hari setelah kompetisi. Namun, pencapaian itu tidak diraih secara instan. Para siswa menjalani pembinaan dan persiapan penelitian selama berbulan-bulan.
Pembimbing tim, Izza Wardati, mengatakan proses persiapan diawali dengan mengenalkan siswa pada jurnal-jurnal ilmiah yang berkaitan dengan penelitian mereka. Dari sana, siswa belajar memahami materi sekaligus mempersiapkan presentasi.
“Untuk lomba penelitian ini kan karya ilmiah. Jadi kita mulai dengan mempelajari dulu jurnal-jurnal tentang penelitian yang kita ambil,” kata Izza, Kamis (24/9/2026).
Delapan Bulan Meneliti Nyamplung
Kepala MIS Ar-Raudlah Langkap, Abd Kowi, mengatakan proses pembinaan berlangsung sekitar delapan bulan. Sekolah bersama YSB terlebih dahulu menyeleksi siswa kelas 4, 5, dan 6 melalui audisi.
Siswa yang lolos kemudian mengikuti pembinaan secara lebih intensif. Aktivitas penelitian tidak hanya dilakukan di sekolah. Mereka juga mencari bahan penelitian di lingkungan sekitar tempat tinggal.
“Pulang sekolah mereka mencari nyamplung, mencari bahan yang diteliti. Malamnya belajar karya ilmiah internasional,” ujar Abd Kowi.
Nyamplung dipilih karena tanaman tersebut mudah ditemukan di sekitar Langkap. Bagi masyarakat setempat, tanaman itu juga bukan sesuatu yang asing karena memiliki kaitan dengan tradisi masyarakat Madura.
Abd Kowi menyebut masyarakat pada masa lalu memanfaatkan nyamplung sebagai salah satu bahan untuk membuat obor.
Dari tanaman yang mudah ditemukan tersebut, para siswa kemudian meneliti potensi minyak nyamplung. Penelitian itu diharapkan tidak hanya berhenti sebagai karya untuk mengikuti kompetisi, tetapi dapat dikembangkan untuk pemanfaatan lebih lanjut, salah satunya sebagai bahan baku biodiesel.
Harus Presentasi dalam Bahasa Inggris
Mengikuti kompetisi internasional juga membuat para siswa menghadapi tantangan di luar materi penelitian. Mereka harus mempresentasikan hasil penelitian sekaligus menjawab pertanyaan juri menggunakan bahasa Inggris.
Menurut Izza, kemampuan memahami pertanyaan juri dan memberikan jawaban menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi siswa.
“Letak kesulitannya itu di Inggris untuk mereka bisa komunikasi. Nanti juri ada pertanyaan-pertanyaan. Agar mereka bisa memahami apa yang diucapkan juri dan bisa menjawab, itu memang paling sulit di bagian bahasa Inggris,” katanya.
Meski demikian, kelima siswa tersebut mampu melewati tahapan presentasi dan penilaian hingga akhirnya meraih medali emas pada kategori Applied Physics and Engineering.
Pemkab Bangkalan Buka Peluang Dukungan
Prestasi tersebut kemudian mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Bangkalan. Wakil Bupati Bangkalan Moch. Fauzan Ja’far menyambut langsung kelima siswa beserta pendampingnya di Pendopo Kabupaten Bangkalan.
Fauzan menilai prestasi tersebut menunjukkan bahwa siswa madrasah di Bangkalan memiliki kesempatan untuk bersaing dalam kompetisi tingkat internasional.
“Pemerintah daerah tentunya merasa bangga dan bersyukur. Ternyata ada anak didik kita di salah satu madrasah ibtidaiyah yang mengikuti kompetisi sains tingkat internasional yang dilaksanakan di Malaysia dan berhasil mendapatkan medali emas,” kata Fauzan.
Dia mengakui pemerintah daerah memiliki keterbatasan anggaran untuk memberikan dukungan secara langsung. Terlebih, madrasah berada dalam naungan lembaga pendidikan vertikal.
Meski begitu, Fauzan membuka kemungkinan pembahasan dukungan terhadap siswa berprestasi tersebut di lingkungan Pemkab Bangkalan.
“Nanti mungkin ini bisa kita bicarakan di internal kami,” ujarnya.
Selain prestasi siswanya, Fauzan juga melihat potensi pengembangan penelitian nyamplung. Menurut dia, penelitian tersebut memiliki kaitan dengan kebutuhan pengembangan energi alternatif.
“Ini menarik dan hari ini negara lagi ingin bertransformasi dari fosil ke biodiesel. Jadi ini masuk bahan bakar atau energi baru terbarukan,” katanya.
Editor : Abdul Aziz Qomar