KLIKJATIM.Com | Jember — Guna mengantisipasi peningkatan risiko keadaan darurat di kawasan pegunungan selama musim kemarau, Pos Search and Rescue (SAR) Basarnas Jember memperkuat kompetensi teknis 35 peserta potensi SAR melalui latihan vertical rescue, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di Pos SAR Jember tersebut berfokus pada penguasaan keterampilan penyelamatan korban di medan ketinggian maupun jurang terjal.
Pelatihan ini digelar di tengah perhatian publik terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dinamika keselamatan di kawasan hutan pegunungan. Kendati demikian, agenda ini difokuskan secara khusus pada teknik evakuasi dan penyelamatan vertikal, bukan operasi pemadaman kebakaran.
Komandan Pos Basarnas Jember, S. Jefriyanzah Putra Pratama, menyatakan bahwa latihan gabungan bersama potensi SAR ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam memelihara kesiapsiagaan operasional serta menyelaraskan standar penanganan musibah di lapangan.
"Kamis kemarin dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan kami, Basarnas Pos Jember, mengadakan latihan vertikal bersama potensi SAR," ujar Jefri.
Sebanyak 35 peserta yang terlibat berasal dari PMI Kabupaten Jember, PMI Kabupaten Bondowoso, serta jajaran komunitas relawan SAR seperti Brandal Alas dan Siluman Rescue. Komunitas-komunitas tersebut merupakan elemen penting dari potensi SAR yang selama ini aktif berkoordinasi dengan Basarnas dalam berbagai operasi kemanusiaan.
Rangkaian pelatihan diawali dengan pembekalan teori mengenai sistem jangkar (anchoring system), serta pembuatan teknik lowering (menurunkan) dan lifting (menaikkan) korban maupun personel penolong.
Usai pendalaman materi, para peserta melangsungkan simulasi praktik rappelling di tower Pos SAR Jember setinggi kurang lebih 25 meter. Dalam simulasi ini, peserta dilatih menggunakan perangkat evakuasi standar seperti I’D dan Auto Stop guna mengasah keahlian penyelamatan berbasis sistem tali (rope rescue).
Jefri menerangkan bahwa kualifikasi vertical rescue sangat krusial ketika menghadapi skenario korban yang terjebak di lokasi sulit dijangkau, baik di tebing pegunungan, kawasan hutan lebat, maupun struktur bangunan tinggi.
"Bagaimana ketika kita harus melakukan penanganan musibah ketika korban itu berada di ketinggian, entah itu berada di gunung hutan ataupun di ketinggian di mana korban ini kita asumsikan berada di tower," jelasnya.
Lebih lanjut, Jefri menekankan bahwa peningkatan kapasitas relawan ini dipacu oleh maraknya aktivitas pendakian gunung menjelang penutupan musim kemarau. Lonjakan jumlah wisatawan pendaki di beberapa jalur pegunungan dinilai meningkatkan potensi terjadinya musibah seperti hilang kontak, cedera, atau tersesat.
"Di akhir-akhir musim kemarau ini sedang lagi tren sekali musibah hilang kontak atau kejadian di pegunungan. Jadi, banyak sekali saat ini karena musim kemarau di mana puncaknya wisatawan itu mendaki," ungkap Jefri.
Melalui pelatihan ini, potensi SAR yang berada di garis depan diharapkan memiliki kesiapan awal untuk melakukan asesmen cepat dan tindakan penyelamatan darurat sebelum tim evakuasi lanjutan tiba di lokasi kejadian.
"Sehingga di kala ada emergensi mereka bisa melakukan aksi terlebih dahulu sembari menunggu tim selanjutnya untuk melakukan evakuasi," pungkasnya.
Editor : Fatih