KLIKJATIM.Com | Bojonegoro – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mendorong optimalisasi pemanfaatan jaringan gas bumi (jargas) bagi rumah tangga dan pelanggan kecil di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Dorongan tersebut dilakukan karena pemanfaatan gas bumi melalui jaringan pipa di daerah penghasil migas itu dinilai masih memiliki ruang yang cukup besar untuk dikembangkan.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan pengembangan jargas di Bojonegoro dapat dilakukan melalui berbagai skema, mulai dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), dukungan pemerintah daerah melalui APBD, hingga pengembangan secara mandiri oleh PT PGN.
Menurut Wahyudi, pemanfaatan gas bumi memberikan sejumlah keuntungan bagi masyarakat karena dinilai lebih efisien, aman, dan ekonomis dibandingkan sejumlah sumber energi lainnya.
Saat ini, pemanfaatan gas bumi di Bojonegoro baru mencapai sekitar 55 persen dari total alokasi yang tersedia. Kondisi tersebut membuka peluang untuk menambah jumlah sambungan jargas bagi masyarakat.
“Dengan total volume gas bumi yang sudah dimanfaatkan kurang lebih baru 55 persen dari total alokasi, dari sisi penggunaan gas bumi ternyata dapat memberikan efisiensi hampir 45 persen pembiayaan. Itu sangat membantu masyarakat karena mengurangi biaya pengeluaran per bulan,” kata Wahyudi dalam Bimbingan Teknis dan Penyebarluasan Informasi mengenai Pengaturan serta Pengawasan Gas Bumi Melalui Pipa di Bojonegoro, Sabtu (8/8/2026).
Wahyudi menjelaskan, biaya penggunaan jargas yang relatif terjangkau membuat masyarakat dapat menghemat pengeluaran rumah tangga. Penghematan tersebut selanjutnya dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan lain.
Tarif yang dibayarkan pelanggan juga bergantung pada tingkat konsumsi. Ada pelanggan yang membayar sekitar Rp25 ribu, Rp42 ribu, Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per bulan.
Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, jargas juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan usaha mikro dan pemanas air.
“Selain digunakan untuk memasak, jargas juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemanas air. Jadi sangat aman dan optimal,” ujarnya.
Sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas bumi, Bojonegoro dinilai layak mendapatkan manfaat lebih besar dari potensi energi yang dimilikinya.
BPH Migas bersama Komisi XII DPR RI pun berkomitmen memperluas sosialisasi mengenai pemanfaatan gas bumi melalui jaringan pipa agar masyarakat semakin memahami manfaat sekaligus siap menjadi pelanggan jargas.
“BPH Migas bersama Komisi XII DPR RI ingin terus melakukan sosialisasi ini agar masyarakat lebih siap untuk memanfaatkan jargas, untuk mendorong dan mendukung Asta Cita pemerintah dengan kemandirian energi,” kata Wahyudi.
Dia menegaskan, keberadaan sumber energi di Bojonegoro harus memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.
“Ini penting, karena sumber energi ada di Bojonegoro dan wajib dimanfaatkan untuk masyarakat Bojonegoro,” imbuhnya.
Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita Sari mengatakan keberadaan jargas telah memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Bojonegoro. Dia berharap jumlah sambungan dapat terus ditambah sehingga cakupan penerima manfaat semakin luas.
“Kami ucapkan terima kasih kepada BPH Migas. Melihat bagaimana 16.200 sambungan jargas selama ini sudah terpasang di Bojonegoro dan sudah dimanfaatkan dengan maksimal. Kami mewakili masyarakat Bojonegoro, mohon dukungannya supaya bisa ditambah lagi sambungan jargas,” katanya.
Menurut Ratna, perluasan jargas tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan energi masyarakat, tetapi juga berpotensi mendukung perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan warga.
Saat ini, jaringan gas bumi telah beroperasi di Kecamatan Bojonegoro, Ngasem, dan Gayam. Ketiga wilayah tersebut masuk dalam wilayah operasional PGN Sales and Operation Regional (SOR) III.
General Manager PGN SOR III Hedi Hedianto mengatakan PGN berkomitmen menjalankan penugasan pemerintah dengan memastikan keandalan pasokan, infrastruktur, serta pelayanan kepada pelanggan.
“Ini adalah sinergi pemerintah termasuk BPH Migas, pemerintah daerah, dan tokoh-tokoh masyarakat, sehingga kami bisa menjalankan penugasan dari pemerintah untuk menyalurkan gas bumi melalui pipa kepada masyarakat,” ujarnya.
Manfaat jargas juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Suharsini (54), salah seorang pelanggan rumah tangga, mengatakan penggunaan jargas membuat aktivitas sehari-harinya lebih mudah karena tidak lagi bergantung pada ketersediaan tabung LPG.
“Satu hari itu saya lima kali memasak air panas, dan kita nggak usah bingung cari gas kalau ada kelangkaan. Sejauh ini jargas PGN tidak ada kendala dan harganya menurut saya sudah imbang Rp4.250 per meter kubik,” katanya.
Pelaku usaha mikro Dwi Merawati (46) juga merasakan penghematan setelah menggunakan jargas. Menurut dia, biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan gas usahanya berkisar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per bulan.
Sementara itu, Ahmad Arief Mardianto (48), pelanggan kecil yang menggunakan jargas untuk operasional restoran cepat saji, mengaku pengeluaran energi usahanya turun cukup signifikan setelah beralih dari LPG ke jaringan gas.
“Dulu pakai gas tabung pengeluaran rata-rata Rp8,3 juta. Setelah pakai jargas dengan harga per meter kubik Rp10 ribu, kita bisa saving dengan per bulan habis rata-rata Rp5,5 juta,” ujarnya.
Selain lebih hemat, Ahmad menilai penggunaan jargas juga memberikan kemudahan dan keamanan dalam operasional usaha.
“Dari segi keamanan, jargas lebih aman, tinggal narik tuas saja itu sudah bisa lancar,” katanya.
Editor : Abdul Aziz Qomar