klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Neraca Dagang Surplus USD5,64 Miliar, Arus Peti Kemas Internasional di TPK Semarang Melonjak 12,2 Persen

avatar Much Taufiqurachman Wahyudi
  • URL berhasil dicopy
Aktifitas bongkar muat di Terminal Peti kemas Semarang.
Aktifitas bongkar muat di Terminal Peti kemas Semarang.

KLIKJATIM.Com | Semarang – Arus logistik nasional terus menunjukkan tren positif seiring meningkatnya aktivitas perdagangan internasional Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari–April 2026, neraca perdagangan nasional mencatatkan surplus senilai USD5,64 miliar

Capaian ini didorong oleh nilai ekspor Indonesia yang mencapai USD92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen secara tahunan (year-on-year), dengan sektor industri pengolahan sebagai tulang punggung utama yang menyumbang USD75,57... miliar. Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar (USD22,76 miliar), diikuti Amerika Serikat (USD10,17 miliar), dan India (USD6,14 miliar).

Geliat ekspor-impor nasional ini berdampak langsung pada operasional PT Pelindo Terminal Petikemas (TPK) Semarang. Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengungkapkan bahwa arus peti kemas internasional di TPK Semarang pada periode Januari hingga Mei 2026 mencapai 382.093 TEUs. Angka ini melonjak 12,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 340.535 TEUs.

Dari total capaian tersebut, aktivitas impor menyumbang 192.829 TEUs (tumbuh 10,7 persen) dan aktivitas ekspor berkontribusi sebesar 189.162 TEUs (tumbuh 13,72 persen). Tren pertumbuhan ini tercatat konsisten sejak tahun 2023 (781.841 TEUs), tahun 2024 (895.904 TEUs), hingga menembus angka di atas 1 juta TEUs pada tahun 2025 lalu.

Merespons pertumbuhan yang masif tersebut, PT Pelindo Terminal Petikemas tengah menggenjot sejumlah langkah strategis jangka pendek dan panjang. Di antaranya adalah penambahan tambatan dermaga sepanjang 275 meter, perluasan lapangan penumpukan, serta pengadaan empat unit alat bongkar muat jenis Quay Container Crane (QCC) yang saat ini masuk dalam tahap uji kelayakan (commissioning and testing).

Jawa Tengah sendiri mencatatkan kontribusi ekspor senilai USD4,5 miliar pada periode Januari–April 2026. Ketua DPD Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Tengah, Ade Siti Muksodah, menjelaskan bahwa produk kayu dari Temanggung dan Wonosobo, produk rajut, serta gula aren masih menjadi komoditas andalan wilayahnya.

Meski kinerja perdagangan memuaskan, Ade mengingatkan adanya tantangan besar berupa ketergantungan bahan baku industri yang masih didominasi impor, khususnya dari Asia Timur.

"Sekitar 70 persen bahan baku kita masih impor dari Tiongkok dan beberapa negara Asia Timur lainnya. Kenaikan harga beberapa bahan baku seperti plastik otomatis memengaruhi perdagangan ekspor di negara kita," kata Ade, Rabu (17/6/2026).

Ade menambahkan, optimalisasi Pelabuhan Tanjung Emas sebagai pintu gerbang utama logistik laut Jawa Tengah sangat krusial guna menekan tingginya biaya distribusi dan menjaga daya saing produk lokal di pasar global.

Keluhan mengenai ritme pergerakan logistik juga dirasakan oleh pelaku usaha lokal. Deddy Mulyadi, seorang pengusaha garmen asal Semarang yang mengekspor produknya ke AS, Eropa, dan Asia, mengharapkan adanya percepatan layanan di Tanjung Emas agar mampu mengimbangi pesatnya pertumbuhan kawasan industri baru di Jawa Tengah. Menurutnya, antrean kapal yang kadang terjadi di pelabuhan masih menjadi kendala jadwal pengiriman.

Menanggapi dinamika ini, Pakar Ekonomi dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Bhimo Rizky Samudro, menegaskan bahwa masa depan perdagangan Indonesia tidak hanya bergantung pada kualitas produk, melainkan pada efisiensi logistik nasional.

Meningkatnya impor bahan baku dan barang modal dinilai sebagai sinyal positif bahwa aktivitas manufaktur dalam negeri masih sangat produktif.

Namun, sebagai negara kepulauan, transformasi digital dan penguatan infrastruktur pelabuhan adalah kunci utama untuk memangkas biaya operasional dan mempercepat distribusi barang hingga ke tangan konsumen global.

Editor :