Saatnya Pemkab Gresik Menggeser Fokus Pelatihan Kerja ke Sektor Digital
Opini oleh: Satria Yudha Prakosa, Mahasiswa Pascasarjana Kebijakan Publik UNAIR. Meminati isu kebijakan publik.
Transformasi digital telah mengubah cara masyarakat belajar, bekerja, dan mengembangkan karier. Perkembangan teknologi membuka akses yang semakin luas terhadap pengetahuan dan keterampilan, baik melalui program pemerintah, sektor swasta, perusahaan, maupun pembelajaran mandiri. Dalam situasi tersebut, kebijakan pengembangan sumber daya manusia juga dituntut untuk beradaptasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Di Kabupaten Gresik, program pelatihan kerja selama ini masih banyak berfokus pada keterampilan konvensional yang berkaitan dengan kebutuhan industri manufaktur dan sektor-sektor tradisional. Pendekatan tersebut memang masih diperlukan, mengingat Gresik merupakan salah satu kawasan industri terbesar di Jawa Timur. Namun, perkembangan ekonomi digital menunjukkan bahwa arah kebijakan pelatihan kerja tidak lagi cukup jika hanya berorientasi pada kebutuhan industri lokal semata.
Munculnya berbagai profesi baru di sektor digital telah membuka peluang kerja yang tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis. Tenaga kerja kini dapat bekerja secara jarak jauh untuk perusahaan nasional maupun internasional tanpa harus meninggalkan daerah asalnya. Kondisi ini menghadirkan kesempatan besar bagi daerah untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di pasar kerja global.
Karena itu, program pelatihan kerja perlu mulai mengakomodasi keterampilan digital yang memiliki prospek tinggi di masa depan. Bidang-bidang seperti pengembangan perangkat lunak, kecerdasan buatan, ilmu data, pengembangan aplikasi, desain antarmuka pengguna, hingga berbagai keterampilan teknologi lainnya layak dipertimbangkan sebagai bagian dari kurikulum pelatihan pemerintah. Langkah tersebut akan memperluas pilihan karier masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan pada daya serap tenaga kerja lokal yang memiliki keterbatasan tertentu.
Penguatan pelatihan digital juga dapat menjadi solusi untuk menekan urbanisasi tenaga kerja muda. Selama ini, banyak lulusan yang harus berpindah ke kota-kota besar demi memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka. Dengan keterampilan digital yang memadai, peluang kerja dapat diakses dari mana saja sehingga talenta lokal memiliki kesempatan untuk tetap tinggal dan berkembang di daerahnya sendiri.
Selain itu, pengembangan pelatihan berbasis digital juga memiliki dimensi sosial yang penting. Sektor digital merupakan salah satu bidang yang relatif terbuka bagi penyandang disabilitas karena banyak pekerjaan dapat dilakukan secara fleksibel tanpa hambatan fisik yang signifikan. Kemajuan teknologi memungkinkan terciptanya lingkungan kerja yang lebih inklusif dan memberikan kesempatan yang setara bagi semua kelompok masyarakat.
Di tengah meningkatnya kesadaran dunia usaha terhadap prinsip kesetaraan dan inklusi, pemerintah daerah memiliki peluang untuk memperluas akses pelatihan kerja bagi kelompok disabilitas. Kebijakan yang adaptif tidak hanya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga memperkuat keadilan sosial melalui penciptaan kesempatan yang lebih merata.
Ke depan, keberhasilan program pelatihan kerja tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang dilatih, melainkan juga dari kemampuan program tersebut menjawab kebutuhan masa depan. Kabupaten Gresik memiliki potensi besar untuk menjadi daerah yang tidak hanya menghasilkan tenaga kerja industri, tetapi juga talenta digital yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Transformasi tersebut membutuhkan keberanian untuk memperbarui arah kebijakan, memperluas jenis pelatihan, serta memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang. Dengan demikian, pelatihan kerja tidak hanya menjadi sarana peningkatan keterampilan, tetapi juga instrumen untuk menciptakan kesetaraan peluang di era ekonomi digital.
Editor : Abdul Aziz Qomar