KLIKJATIM.Com | Bojonegoro – Struktur ekonomi Kabupaten Bojonegoro mulai menunjukkan perubahan signifikan. Ketergantungan terhadap sektor minyak dan gas bumi (migas) perlahan berkurang seiring menguatnya kontribusi sektor nonmigas, terutama pertanian yang kini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Triwulan I Tahun 2026, sektor pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar perekonomian Bojonegoro dengan kontribusi 42,03 persen. Namun, gabungan 16 sektor nonmigas telah memberikan kontribusi lebih besar, yakni mencapai 57,97 persen.
Secara nominal, PDRB Bojonegoro atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp28,44 triliun. Nilai tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sejumlah daerah di sekitarnya seperti Lamongan, Nganjuk, Ngawi, bahkan Tuban.
Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, mengungkapkan bahwa, perekonomian Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 tumbuh 0,02 persen secara tahunan (year-on-year). Sementara jika sektor pertambangan tidak dihitung, pertumbuhan ekonomi mencapai 7,34 persen.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi sinyal positif di tengah belum optimalnya lifting migas yang menyebabkan sektor pertambangan mengalami perlambatan. “Pertanian tumbuh 11,38 persen. Ketika pertanian tumbuh tinggi, itulah yang menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif dan tidak kembali minus,” ujarnya. Selasa (9/6/2026).
Data BPS mencatat sektor pertanian menjadi motor pertumbuhan utama berkat meningkatnya produksi padi dan jagung. Kinerja sektor ini dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi masyarakat karena manfaatnya dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan rumah tangga di pedesaan.
Selain pertanian lanjutnya, sejumlah sektor jasa juga menunjukkan performa yang mengesankan. Lapangan usaha jasa lainnya tumbuh 14,77 persen, kelompok lain-lain 14,93 persen, serta sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 11,37 persen.
Peningkatan aktivitas wisata, hiburan, dan rekreasi di Bojonegoro menjadi faktor pendorong pertumbuhan sektor jasa. Di sisi lain, program pemerintah pusat seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memberikan dampak terhadap meningkatnya aktivitas usaha penyediaan makanan dan minuman. "Sektor perdagangan tercatat tumbuh 6,46 persen, informasi dan komunikasi 7,73 persen, transportasi dan pergudangan 6,92 persen, serta jasa perusahaan 9,94 persen," tambahnya.
Syawaluddin menilai pengalaman kontraksi ekonomi pada 2023 menjadi pelajaran penting bagi Bojonegoro untuk memperkuat sektor-sektor nonmigas. Menurutnya, pertanian, pendidikan, kesehatan, dan berbagai sektor jasa memiliki daya tahan ekonomi yang lebih kuat karena manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi harus bergerak inklusif. Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Bojonegoro karena manfaatnya dirasakan lebih luas dibandingkan sektor pertambangan,” tegasnya.
Editor : Ratno