klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Universitas Sunan Gresik dan Pemdes Sedagaran Bentuk Satgas Anti-Kekerasan Berbasis Religiusitas

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy

KLIKJATIM.Com | Gresik – Upaya menekan angka kekerasan domestik dan memperkuat ketahanan keluarga terus dilakukan di Desa Sedagaran, Kabupaten Gresik. Melalui kolaborasi antara tim pengabdian masyarakat Universitas Sunan Gresik dan Pemerintah Desa Sedagaran, digelar program bertajuk “Penguatan Nilai Religiusitas dalam Mencegah Kekerasan Berbasis Gender di Desa Sedagaran” di Balai Desa Sedagaran, Rabu (13/5/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader PKK, Karang Taruna, hingga perwakilan keluarga di Desa Sedagaran. Program ini menggunakan pendekatan partisipatif dan kolaboratif (participatory action model) dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan.

Dalam sesi sosialisasi, terungkap bahwa kasus Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) masih sering dianggap sebagai persoalan privat dalam lingkup rumah tangga. Akibatnya, banyak korban memilih diam dan enggan melapor.

Menanggapi kondisi tersebut, tim pengabdian masyarakat menggelar Focus Group Discussion (FGD) guna memetakan akar persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Dari hasil diskusi, ditemukan kebutuhan mendesak akan edukasi yang tidak hanya menyentuh aspek hukum formal, seperti Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, tetapi juga pendekatan berbasis nilai religius dan sosial budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Sebagai tindak lanjut konkret, forum FGD berhasil menginisiasi pembentukan Satgas Desa Anti-Kekerasan yang melibatkan unsur pemerintah desa, tokoh agama, PKK, serta pemuda. Satgas tersebut nantinya berfungsi sebagai pusat koordinasi edukasi, pencegahan, hingga pendampingan keluarga.

Untuk mengukur efektivitas program, peserta yang terdiri dari ibu-ibu dan bapak-bapak mengikuti sesi pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan terkait bentuk-bentuk kekerasan.

Masyarakat yang sebelumnya menganggap kekerasan hanya sebatas tindakan fisik, kini mulai memahami bahwa kekerasan verbal, psikologis, hingga penelantaran ekonomi juga termasuk tindakan yang merendahkan martabat kemanusiaan.

Perubahan positif juga terlihat dari komitmen para tokoh agama setempat yang siap mengintegrasikan nilai-nilai keluarga harmonis, musyawarah (syura), dan kasih sayang (rahmah) dalam materi dakwah, khutbah Jumat, maupun pengajian rutin warga.

Selain penguatan spiritual dan literasi anti-kekerasan, program ini turut memberdayakan perempuan melalui pelatihan ekonomi kreatif. Para ibu rumah tangga dibekali keterampilan mengolah produk kuliner, teknik pengemasan (packaging), hingga pemasaran digital melalui marketplace.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan posisi tawar perempuan dalam keluarga sekaligus meminimalisir konflik rumah tangga yang kerap dipicu persoalan ekonomi.

Memasuki era digital, program ini juga menghadirkan inovasi berupa e-module keluarga sadar anti-kekerasan, video edukasi, serta layanan hotline pengaduan berbasis WhatsApp yang aman dan rahasia.

Melalui evaluasi menyeluruh dan revitalisasi fungsi sosial keagamaan, termasuk program konsultasi keluarga berbasis masjid, Desa Sedagaran kini dinilai memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi percontohan “Desa Religius Berbasis Anti-Kekerasan” yang dapat direplikasi di berbagai wilayah lain di Indonesia.

Editor :