klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Gunakan Metode Khumasi, Ribuan Jemaah di Jember Awali Salat Tarawih Malam Ini

avatar Muhammad Hatta
  • URL berhasil dicopy
Pelaksanaan Salat Tarawih lebih Awal Ribuan Jemaah di Jember.
Pelaksanaan Salat Tarawih lebih Awal Ribuan Jemaah di Jember.

KLIKJATIM.Com | Jember – Suasana khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Mahfilud Duror, Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Jember, pada Senin malam (16/2/2026).

Ribuan jemaah dan santri di wilayah tersebut resmi mengawali ibadah Salat Tarawih, menandai dimulainya Ramadan 1447 Hijriah lebih awal dibandingkan ketetapan pemerintah maupun Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Berbeda dengan prediksi mayoritas yang memperkirakan awal puasa jatuh pada hari Rabu, jemaah di bawah asuhan KH Ali Wafa ini akan memulai ibadah puasa hari pertama pada Selasa, 17 Februari 2026.

Penetapan awal Ramadan ini bukan tanpa alasan. KH Ali Wafa menjelaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada sistem Khumasi yang merujuk pada kitab Najhatul Majalis karya Syaikh Abdurrahman As-Sufuri Asy-Syafii.

"Untuk satu Ramadan tahun ini saya mengawali pada tanggal 17 Februari 2026, jadi malam ini saya tarawih," ujar KH Ali Wafa saat ditemui di lingkungan pesantren.

Secara teknis, metode Khumasi menghitung lima hari dari awal Ramadan tahun sebelumnya. Dimana tahun lalu dimulai hari Jumat, sehingga menurut perhitungan lima hari yakni Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, Selasa. Dan hasilnya 1 Ramadan jatuh pada hari Selasa (dimulai sejak Senin malam).

Selain itu, perhitungan ini juga diselaraskan dengan momentum wukuf tahun sebelumnya yang jatuh pada hari Kamis, yang jika dihitung menggunakan pedoman rukun iman, juga mengarah pada hari Selasa.

Metode ini merupakan warisan dari kiai sepuh pesantren, Kiai Abdul Hamid Misbat, yang selaras dengan sistem Imam Ja’far Ash-Shodiq. Menariknya, sistem ini memungkinkan penetapan acuan hingga satu windu (8 tahun).

"Dalam lima tahun, ada setidaknya dua hingga tiga kali lebaran yang sama dengan pemerintah," tambah KH Ali Wafa, menekankan bahwa perbedaan ini adalah hal yang lumrah dalam khazanah Islam.

Salat Tarawih di Pesantren Mahfilud Duror dilaksanakan sebanyak 23 rakaat. Jemaah yang hadir tidak hanya berasal dari warga sekitar, tetapi juga para alumni yang datang dari berbagai daerah.

Dengan dimulainya puasa pada hari Selasa, KH Ali Wafa memproyeksikan bahwa puasa akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga Hari Raya Idul Fitri 1447 H diprediksi jatuh pada hari Kamis.

Di tengah perbedaan prediksi dengan PP Muhammadiyah (Rabu, 18 Februari) dan penantian sidang isbat pemerintah, KH Ali Wafa berpesan agar perbedaan ini disikapi dengan bijak.

"Adanya perbedaan ini tentu menjadi rahmat. Perbedaan awal Ramadan ini tidak ada yang salah, yang salah ya yang tidak melaksanakan puasa Ramadan," pungkasnya.

Editor :