KLIKJATIM.Com | Jember - Harga kedelai sebagai bahan baku utama tempe mengalami kenaikan hingga Rp9.500 per kilogram. Akibat kenaikan ini, pengrajin tempe skala kecil di Kabupaten Jember terpaksa mengurangi ukuran tempe dan menekan produksi.
Langkah ini dilakukan deni menjaga kelangsungan usaha di tengah biaya produksi yang semakin tinggi.
Salah satu pengrajin tempe di Jember, Mariono (54), warga Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Jember, Jawa Timur. Mengungkapkan, bahwa kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak awal tahun 2026.
Ia menyebut, sebelumnya harga kedelai masih berada di kisaran Rp8.500 hingga Rp9.000 per kilogram, namun kini terus merangkak naik hingga Rp9.500.
“Sekarang harga kedelai per kilonya Rp9.500. Dulu masih ada yang Rp9.000, bahkan Rp8.500. Sekarang mentoknya di Rp9.500,” ujarnya saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Rabu (21/1/2026).
Menurut Mariono, lonjakan harga tersebut terasa semakin berat jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi Covid-19. Pada masa itu, harga kedelai masih berkisar Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram.
“Sebelum pandemi harganya masih enam sampai tujuh ribu. Sekarang naik drastis, bahan baku jadi mahal,” katanya.
Dampak kenaikan harga kedelai membuat produksi tempe di tempat usahanya menurun signifikan. Jika sebelumnya Mariono mampu memproduksi hingga 1,8 kuintal tempe per hari, kini jumlah tersebut turun menjadi sekitar satu kuintal.
Selain menurunkan produksi, ia juga terpaksa mengurangi jumlah pekerja demi menekan biaya operasional. “Produksi sekarang cuma satu kuintal. Pekerja sudah saya kurangi satu, sekarang saya kerjakan sendiri supaya bisa bertahan,” ungkapnya.
Meski biaya produksi meningkat, Mariono memilih untuk tidak menaikkan harga jual tempe kepada konsumen. Harga tempe tetap dijual Rp5.000 per potong. Namun, sebagai bentuk penyesuaian, ukuran tempe dikurangi sekitar satu ons per kilogram.
“Harga jual tidak naik, tapi ukurannya dikurangi. Kurangnya sekitar satu ons per kilo. Ini sudah berlaku sejak dua hari terakhir,” jelasnya.
Lebih lanjut Mariono menyampaikan, terkait penyebab mahalnya harga kedelai, ia menyebut sebagian besar bahan baku tempe masih bergantung pada impor.
Ia juga menduga kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
"Kalau di berita TV, katanya kenaikan harga bahan baku kedelai ini, karena untuk bahan baku kedelai itu. Harus import dari luar negeri. Juga katanya sih, akibat melemahnya rupiah terhadap dollar Amerika. Tapi itu urusan pemerintah, semoga ada solusi buat kami usaha kecil," ujarnya.
Editor : Wahyudi