klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Social Distancing, Ibu-ibu di Gresik Produksi Tempat Cuci Tangan dari Jerigen Bekas

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Produksi tempat cuci tangan dengan jerigen bekas. (Miftahul Faiz/Klikjatim.com)
Produksi tempat cuci tangan dengan jerigen bekas. (Miftahul Faiz/Klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik – Adanya penyebaran wabah Corona Virus Disease atau Covid-19 membuat semua orang harus kerja dan ibadah di rumah. Hal ini kemudian membuat dua ibu rumah tangga di Gresik memproduksi alat cuci tangan dari jerigen bekas.

Setelah ada himbauan pemerintah untuk bekerja di rumah, ibu rumah tangga (IRT) bernama Siti Fitria asal Kelurahan Ngargosari, Kecamatan Kebomas bingung.  Dia dipaksa memutar otak dengan keadaan mewabahnya pandemi corona ini. Kesehariannya sebagai pegiat lingkungan terhambat. Dia tidak boleh lagi mengumpulkan orang banyak untuk melakukan edukasi.

Nah, wanita yang juga ketua Asosiasi Bank Sampah Gresik (ASBAG) ini kemudian merubah barang bekas menjadi barang bernilai harganya. Dia membeli sejumlah jerigen bekas. Ada yang dibeli dari perusahaan di Gresik.

Dia membuat tempat cuci tangan bersama temannya Indah Sri. Meski hanya dua orang, tapi mampu menghasilkan puluhan bahkan ratusan tempat cuci tangan di setiap harinya.

Caranya, jerigen bekas itu dicuci terlebih dahulu dengan air bersih. Mulai dari air dingin hingga air panas dan dibersihkan dengan sabun cair. Setelah itu, jerigen dikeringkan. Tak perlu waktu lama, tangannya dengan cekatan menari dengan kuas cat dan merubah warna jurigen itu menjadi merah. Kemudian dijemur lagi, setelah itu dia melukis pohon di sisi kanan dan kiri tempat cuci tangannya itu. Kertas bertuliskan 7 cuci tangan ditempel di bagian tengah.

Usai proses gambar dan warna usai, dia melubangi bagian bawah tempat kran dengan bor. Dipasanglah kran air dispenser seharga Rp 9 ribu itu sebagai proses terakhir pembuatan tempat cuci tangan.

“Satu tempat cuci tangan paling lama 30 menit,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Jumat (3/4/2020).

Menurutnya, pesanan paling banyak berasal dari Pemerintah Desa (Pemdes), Sekolah, komplek perumahan, bahkan instansi pemerintahan. Paling banyak diminta adalah jerigen yang berwarna merah dan ungu dengan motif pohon. “Paling jauh dikirim ke Bogor. Ada petinggi Kementrian Lingkungan Hidup yang pesan juga,” ucapnya.

[irp]

Dalam sehari, mampu memproduksi hingga 150 tempat cuci tangan dari jerigen bekas ini. Asalkan cuaca mendukung, tidak hujan atau mendung. Ada tiga jenis yang dijual. Pertama ukuran 20 liter, kemudian 15 liter biasanya disebut jerigen apel dan berbentuk kotak dengan daya tampung air 18 liter.

“Yang paling laku yang 20 liter. Tapi yang 15 sama 18 liter saya beri bonus sabun cuci tangan. Harganya sama semua cuman Rp 50 ribu,” tuturnya.

Siti mengaku, memulai bisnis ini dengan iseng-iseng. Pada tanggal 7 maret lalu, namun saat diunggah di media sosial mendapat respon positif, pemesan mulai berdatangan. Pada siang hari banyak ibu-ibu yang datang untuk melihat hasil karyanya.

“Kita membuat kerajinan mengusir kebosanan di rumah. Sementara kita juga menuruti Physical Distancing, cuci tangan pakai sabun. Sesuai dengan anjuran pemerintah untuk menjadi salah satu pemutus mata rantai virus corona. Setiap hari laku bisa 60 sampai 70 setiap hari, total dapat sekitar Rp 4 juta per hari,” terang Siti.

[irp]

Salah satu rekannya, Indah Sri mengaku senang meski hanya membersihkan jerigen, mampu menambah pundi-pundi rupiah di tengah pandemi corona.

“Suka aja daripada diam di rumah. Mending bekerja ringan menghasilkan,” pungkasnya. (iz/bro)

Editor :