klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Disparitas Harga Sembako di Bawean Masih Tinggi, Warga Usul Tol Laut

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi jaringan tol laut (Dok/Kemenhub)
Ilustrasi jaringan tol laut (Dok/Kemenhub)

KLIKJATIM.Com | Gresik — Harga komoditas pangan di Bawean masih tergolong tinggi dari pada rata-rata di daratan Gresik, salah satu faktornya adalah biaya logistik pengiriman sembako ke Bawean mahal.

Pulau yang secara administratif masuk dalam Kabupaten Gresik ini, butuh pemerataan harga komoditas dengan cara menekan harga logistik.

Sebagaimana data yang didapatkan Klikjatim, disparitas harga sembako tercermin misalnya dari harga cabai rawit dan cabai besar, di Pulau Bawean Rp60 ribu per kilo, sedangkan di daratan Gresik cabai rawitRp 30 ribu, dan cabai besar Rp 31 ribu. Demikian juga dengan harga minyak goreng kemasan di Bawean Rp18 ribu, di Gresik Rp16 ribu.

Begitu juga minyak curah Rp16 ribu di Bawean, dan di Gresik Rp14 ribu. Ada selisih Rp2 ribu. Susu bubuk Rp60 ribu, dan susu balita Rp42 ribu, di Bawean.

Di Gresik, susu bubuk Rp 42 ribu, dan susu balita Rp 39 ribu. Harga bawang merah Rp 35 ribu, bawang putih Rp 30 ribu di Bawean per kilo, sedangkan di Gresik bawang merah Rp 32 ribu, dan bawang putih Rp 29 ribu.

Salah satu alternatif, program tol laut. Tol Laut adalah konsep pengangkutan logistik kelautan di Indonesia yang dicetuskan oleh Presiden Joko Widodo pada 2016 silam.

Baca juga: Jadwal Kapal ke Bawean Akan Disesuaikan Jumlah Pemudik

Program ini bertujuan untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di Indonesia. Dengan adanya hubungan antara pelabuhan-pelabuhan laut ini, pemerintah berharap kelancaran distribusi barang dapat tercipta hingga ke pelosok, juga mewujudkan pemerataan harga logistik setiap barang di seluruh wilayah Indonesia.

“Tentu ini sangat dibutuhkan di Pulau Bawean, mengingat harga sembako lebih tinggi dihanding daratan Gresik. Padahal Bawean termasuk wilayah administrasi Kabupaten Gresik,” ungkap salah satu tokoh masyarakat, Abdul Hamid.

Menurut dia, keberadaan program Tol Laut (Sabuk Nusantara) ini, sangat membantu pengiriman logistik dari Surabaya - Bawean. Bahkan, setiap tahun lintasan tol laut ini juga diberikan subsidi dari Laut.

“Sekarang hanya tinggal keseriusan pemerintah daerah, mengajukan program tol laut ke Dishub Provinsi, tentang trasportasi tol laut, yang membawa barang,” jelas dia.

Dengan demikian, nantinya kalau program tersebut terlaksana. Akan menambah armada kapal yang datang ke Pelabuhan Bawean. Tidak hanya KMP Gili Iyang saja.

“Nantinya program tol laut, bisa seminggu sekali ke Pelabuhan Bawean. Apalagi ada pelabuhan milik Provinsi yang akan beroperasi melayani kapal lintasan Paciran-Bawean - Kalimantan,” urai Amek sapaan akrabnya.

Beberapa komoditas tersebut kerap kali didatangkan melalui Kapal Layar Motor (KMP) Gili Iyang, atau perahu Kapal Layar Motor (KLM). (yud)

Editor :