KLIKJATIM.Com | Tulungagung - Menjelang bulan Ramadhan biasanya menjadi bulan berkah bagi pengusaha kuliner, namun tidak untuk tahun ini. Kini pengusaha kuliner di Kabupaten Tulungagung harus menghadapi kenaikan harga elpiji non subsidi 12 kilogram,menyusul kelangkaan minyak goreng di pasaran.
Ketua Perkumpulan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Tulungagung, Nur Wakhidun mengatakan, kondisi ini sangat merugikan terutama untuk pengusaha kuliner seeprti dirinya.
Penghobi motor trail ini menyebut, perubahan harga elpiji non subsidi terjadi dua kali dalam sebulan terakhir ini, dari yang seharga Rp 150.000,- per tabungnya kemudian naik menjadi Rp 170.000,- dan sekarang sudah ada di angka Rp 200.000,- per tabungnya.
"Ini sudah dua kali naiknya mas, dalam waktu sebulan ini, sekarang harga sampai 200 ribu,kalau rata rata setiap hari saya menghabiskan 3 sampai 4 tabung yang 12 kilogram," ujarnya pada Jumat (11/03/2022).
Wakhidun menjelaskan, dengan kenaikan ini maka secara otomatis margin keuntungannya semakin menipis.
"Ndak mungkin saya menaikkan harga atau mengubah potongan daging karna itu soal kualitas,mau ndak mau saya itu harus rela mengurangi laba sampai 10%," jelasnya.
Kelangkaan minyak goreng berkualitas juga menjadi masalah lain, sebab dirinya terpaksa menggunakan minyak goreng biasa dengan harga murah yang tidak hemat karena baru dua kali pakai sudah harus diganti.
"Ini juga minyak goreng itu saya dapatnya yang merk tidak berkualitas, jadi 2 kali dipakei goreng saja sudah rusak,kalau yang merknya berkualitas kan bisa sampai 4 kali penggorengan," terangnya.
Pihaknya hanya bisa berharap Pemerintah segera turun tangan untuk melakukan pengendalian harga sembako dan produk lainnya di pasaran.
Sebab jika terus tidak terkendali, bukan tidak mungkin akan semakin banyak usaha yang memilih untuk tutup dan tidak beroperasi hingga penghentian sementara pekerja di sektor kuliner.
"Harapannya pemerintah segera turun tangan dengan kondisi ini, untuk mengendalikan harga sembako," pungkasnya. (yud)
Editor : Iman