KLIKJATIM.Com | Gresik —Pengerjaan proyek underpass di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo masih belum juga rampung. Padahal surat perintah kerja (SPK) proyek lanjutan 2020 itu berakhir 4 November kemarin. Tidak hanya itu, akses jalan keluar masuk Underpass itu dinilai berbahaya.
[irp]
Tampak terlihat sejumlah pekerja masih mengerjakan beberapa pekerjaan. Seperti trotoar untuk pejalan kaki. Para pekerja juga terlihat masih memasang keramik. Selain itu, penerangan jalan di dalam Underpass juga belum terpasang. Demikian pula marka jalan hingga traffic light.
Sekertaris Komisi III DPRD Gresik Abdullah Hamdi melakukan inspeksi mendadak (sidak). Pihaknya mengapresiasi tentang bangunan yang bagus itu, namun juga ada catatan banyak.
Hamdi menyebut apabila akses lalu lintas di Underpass itu terlalu dipaksakan. Sebab, akses keluar masuk jalan baru itu sangat berbahaya. Mengingat, pintu masuk dan keluar haluannya kurang lebar. Apalagi di titik itu bertepatan dengan tingungan.
“Ini nanti bagaimana lalinnya. Yang dari arah GKB kemudian, yang akan ke GKB. Kalau di persimpangan sana (tugu GKB,red) tetap digunakan. Otomatis tidak ada yang berubah,” ujarnya.
Pihaknya memberikan catatan lalu lintas di titik pintu masuk dan keluar di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo. Selain itu juga pintu masuk dan keluar di Jalan Sumatera. “Yang pasti ini berbahaya. Dan potensi macet juga karena pas tikungan dan jalannya tidak besar,” ujar Hamdi.
Politisi PKB itu juga menyotori kondisi aspal yang terbilang kasar. Menurutnya, perlu diberi pelapis lagi agar aspal lebih halus. “Pengaspalan jalan ini sebagian pekerjaannya jelek. Bahkan, ada indikasi mutual chek 0 % (Mc) tidak sesuai. Ini berimbas pada pengerasan aspal juga. Meskipun secara umum lumayan, tetapi ada beberapa titik yang tidak sesuai Mc 0. Makanya, sebagian aspal jalan masih terlihat tergerus dan tidak mulus. Sangat disayangkan kalau dibiarkan maka aspal jalan cepat terkelupas,” jelas Hamdi.
Sementara itu, Pengawas Proyek Underpass Heri menyebut, lalu lintas di jalan baru itu nanti hanya satu jalur saja. Sehingga kendaraan yang melintasi underpass secara bergantian. “Nanti ada traffic light di persimpangan ini,” katanya.
Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Gresik Tursilowanto Hariogi mengaku pihaknya hanya membantu untuk melengkapi rambu lalu lintas saja. Sebab, proyek tersebut bukan menjadi pekerjaan dari Dishub. “Ini belum ada permintaan harus begitu. Skemanya bagaimana kami belum ada permintaan,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Pemkab Gresik Achmad Hadi mengatakan, apabila underpas saat ini masih proses penuntasan jalan fontage dan sarana prasarana. “Nanti akan dilakukan simulasi atau penyesuaian alur lalu lintas. Tapi jika underpass sudah bisa dioperasikan,” ucapnya.
Perlu diketahui, pembangunan underpass dilakukan secara multi years. Tahun 2020 lalu Pemkab Gresik mengalokasikan anggaran sebesar Rp 5 miliar untuk pengerjaan fisik terowongan itu. Tahun 2021 ini, Pemkab kembali menganggarkan Rp 3,92 miliar untuk finishing. Yakni pembuatan pelengsengan tebing disekitar bangunan agar tidak terjadi longsor. (bro)
Editor : Redaksi