KLIKJATIM.Com | Surabaya--Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama (UNUSA) Prof Dr Mulyadi dr Sp P (K) mengkhawatirkan proses pembelajaran di masa pandemi. Sebab, menurut Mulyani interaksi dokter dengan pasien berkurang selama masa pandemi.
[irp]
“Saat pandemi Covid-19 dan mengacu pada Surat Edaran Kementerian No. 1 tahun 2020 tentang pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari rumah, telah mengurangi kesempatan mahasiswa pendidikan profesi dokter dapat berinteraksi dengan pasien. Ini telah mengusik nurani saya terhadap pendidikan dokter,” katanya saat pidato pengukuhan, Sabtu (16/10/2021).
Dikatakan guru besar kelahiran, Trieng Meduro, Sawang, Aceh Selatan, pada 19 Agustus 1962 ini mengatakan, menghadapi keadan ini para pendidik kedokteran diharuskan untuk menggunakan sistem berbasis teknologi dan simulasi melalui daring. “Ini merupakan tantangan sekaligus pertaruhan. Mengingat prinsip utama dalam pendidikan kedokteran, prinsip pengajaran klinis ideal yang tidak dapat digantikan adalah tidak ada guru yang lebih baik selain pengalaman langsung menghadapi pasien,” katanya.
Suami dari Dr. Arti Lukitasari, dr.,Sp.M ini mengatakan, kegiatan pedagogis memakai simulasi dan inovasi teknologi selama pandemi seperti kuliah daring, simulator virtual webcasting, diskusi ruang daring, telah menghilangkan, setidaknya mengurangi esensi pendidikan yang bertujuan menghasilkan seorang dokter yang sesuai dengan panduan pendidikan dokter Indonesia.
“Regulasi yang membatasi hubungan antara peserta pendidikan dokter dengan pasien pada masa pandemi merupakan dilema, karena seorang dokter kelak akan menghadapi orang yang sakit, sesuai tingkat kompetensinya. Ke depan, merupakan suatu keniscayaan agar mahasiswa pendidikan profesi dokter untuk terlibat dan ikut melihat pasien yang nyata di rumah sakit dengan alat pelindung diri maksimal, serta mengikuti protokol kesehatan,” tambahnya.
Menghadapi pandemi Covid-19, dengan mengacu pada regulasi Kementerian, Fakultas Kedokteran (FK) Unusa telah melakukan beberapa inovasi berbasis teknologi yang tersedia saat ini, pendidikan tetap berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dengan berusaha agar kompetensi yang diharapkan tetap dapat dimiliki setiap peserta didik yang akan dievaluasi pada tahap akhir pendidikan.
Dikatakannya, sebagai salah satu Fakultas Kedokteran yang masih baru, FK Unusa telah memulai langkah awal yang sangat baik dan patut kita syukuri, evaluasi akhir Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) yang pertama kali diikuti oleh mahasiswa FK Unusa telah menghasilkan tingkat kelulusan mencapai 100 persen. (*)
Editor : Redaksi