klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Menyisakan Kenangan, Banyak Penyintas Bernostalgia di Rusunawa UIN Satu

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Pembongkaran kamar di Rusunawa UIN SATU.
Pembongkaran kamar di Rusunawa UIN SATU.

KLIKJATIM.Com | Tulungagung - Setelah 17 Bulan beroperasi akhirnya mulai akhir September 2021 kemarin, Lokasi Karantina Rusunawa UIN Satu Tulungagung dikembalikan ke fungsinya lagi sebagai Rusunawa untuk mahasiswa UIN Satu Tulungagung.

[irp]

Koordinator Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Tagana Tulungagung, Imam Syafei yang dikonfirmasi pada Kamis (30/09) sore kemarin mengakui, banyak penyintas yang pernah menjalani karantina di lokasi ini yang sering kangen, apalagi setelah mengetahui lokasi ini akan dikembalikan fungsinya.

Imam mengaku mendapatkan permintaan dari sejumlah penyintas yang tergabung di dalam grup whatsaap untuk mengabadikan kondisi terakhir Rusunawa sebelum dikembalikan fungsinya lewat video.

Bahkan tak jarang juga mantan penghuni lokasi karantina ini yang membiarkan barang barang mereka ditinggalkan di lokasi ini, seperti jam dinding, helm, gitar, sepatu hingga sembako yang sempat mereka bawa dari rumah.

"Ada yang request disuruh memvideokan suasana sini, ya nanti saya videokan saya unggah di youtube," ungkapnya.

Pihaknya mengakui, hubungan kekeluargaan antara penyintas Covid-19 yang pernah menjalani karantina di Rusunawa dengan Tim LDP cukup bagus, buktinya sampai saat ini mereka masih akrab tersambung melalui Whatsapp group.

Bahkan ada juga penyintas yang tidak lupa mengirimkan makanan hingga tumpeng kepada Tim LDP yang sedang berjaga di lokasi karantina.

"Banyak yang masih sering kontak lewat WA," tuturnya.

Imam mengaku, kenangan lainnya yang tak bisa dilupakan adalah keberadaan shelter tombo kangen.

Kotak transparan yang diletakkan di halaman lokasi karantina ini sering disebut sebagai serpihan surga, sebab lewat benda inilah penghuni lokasi karantina bisa melepas rindu dengan sanak saudaranya .

"Teman teman menyebutnya serpihan surga, karena orang yang kangen sudah mau memaksa pulang, bisa menahan rindu mereka lewat shelter ini," ucap Imam.

Imam mengisahkan, pembuatan shelter ini bermula dari keprihatinan tim LDP yang menyaksikan seorang kakek yang sedang dikarantina hanya bisa melambaikan tangan kepada cucunya di luar lokasi karantina, mereka hanya saling memandang kemudian saling menangis.

Kisah lain menurut Imam terjadi saat perayaan idul fitri tahun 2020, saat itu ada seorang remaja putri dan ibunya yang hanya menangis di pos jaga tim LDP, kemudian mereka meminta dipertemukan dengan salah satu penghuni lokasi karantina yang ternyata adalah ayah dari remaja putri tersebut.

Akhirnya mereka dipertemukan dengan jarak yang cukup jauh, untuk menghindari penyebaran Covid -19.

"Kita juga pernah sebelum ada shelter ini mempertemukan ayah dan putri kecilnya yang kangen, akhirnya ayahnya ini pakai baju hazmat dan menemui putrinya dengan jarak yang jauh, makanya kita menginisiasi terwujudnya shelter ini," pungkas Imam. (bro)

Editor :