klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Pakar Epidemiologi : Surabaya Pantas Masuk Level 1

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy

KLIKJATIM.Com | Surabaya - Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair), Dr. Windhu Purnomo mengatakan berdasarkan hasil asesmen Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bahwa Surabaya memang pantas masuk ke level 1. Karena jika dilihat dari kapasitas responnya dan transmisi komunitasnya sudah memenuhi semuanya, serta di bawah standart atau level 1 semuanya.

[irp]

“Kalau dari hasil asesmen Kemenkes, memang pantas Surabaya level 1. Asesmen ini yang terbaik yang kita punya sekarang, karena sesuai dengan acuan WHO. Berbeda dengan dulu ketika masih pakai warna-warni, itu lebih tidak fair. Kalau yang sekarang ini sudah bagus,” kata Dr. Windhu.

Dia juga merinci capaian Surabaya dilihat dari transmisi komunitas dan kapasitas respon. Khusus untuk transmisi komunitas ada tiga indikator, yaitu kasus konfirmasi sudah bagus dengan nilai 8,81 per 100 ribu penduduk. Angka ini sudah di bawah standart Kemenkes 20 per 100 ribu penduduk.

Kemudian untuk rawat inapnya 3,43 per 100 ribu penduduk. Juga sudah di bawah standart Kemenkes 5 per 100 ribu penduduk. Lalu untuk angka kematiannya, Surabaya sudah 0,65 dan standartnya Kemenkes tidak boleh lebih dari 1. “Berarti oke semua kalau dilihat dari sini,” kata dia.

Selanjutnya, khusus untuk kapasitas responnya juga ada tiga indikator. Yaitu untuk positivity ratenya sudah 0,41 persen dan jauh di bawah 5 persen sesuai standart Kemenkes. Untuk tracingnya sekarang di Surabaya sudah 1:20,71 dan standartnya Kemenkes 1:14.

Kemudian BOR-nya sekarang 14,45 persen dan sudah jauh dari standart Kemenkes 40 persen. “Jadi sudah bagus semuanya dan sudah cocok,” tegasnya.

Oleh karena itu, Windhu berpesan kepada Kemenkes RI agar membarui peraturan mengenai batas pasien RS tersebut. Dan seharusnya asesmen dilakukan berdasarkan jumlah pasien yang berasal dari daerah yang bersangkutan.

"Kalau seperti ini terus banyak daerah itu tidak bisa mencapai level yang lebih rendah karena ada ketidaktepatan," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Surabaya, Febria Rachmanita memberikan data terbaru mengenai keterisian rumah sakit di Kota Surabaya. Dari hasil survei di setiap rumah sakit, ternyata mayoritas pasien di RS Surabaya adalah non-KTP Surabaya.

Perbandingannya 63,82 persen warga luar Surabaya dan 36,18 persen warga KTP Surabaya. "Selisihnya itu sekitar 300-an. Pada saat kami buat hasil hitungan kami, kalau hanya KTP Surabaya ada 124. Kalau kita hitung per 100 ribu per minggu ada 4,25. Jadi yang disampaikan Dr Windhu benar sekali," pungkasnya. (nul)

Editor :