klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Pertumbuhan Ekonomi Jatim Melambat, Sektor UMKM dan Kerjasama Akan Diperkuat

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Gubernur Khofifah saat memberikan paparan terkait pertumbuhan ekonomi di Jatim. (Ni'am Kurniawan/Klikjatim.com)
Gubernur Khofifah saat memberikan paparan terkait pertumbuhan ekonomi di Jatim. (Ni'am Kurniawan/Klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur nampaknya akan mengahadapi tantangan berat pada tahun 2020 mendatang. Sebab, patokan target yang diprediksi mencapai angka di antara 5,4 sampai 5,8 persen masih harus dikejar dengan kerja keras.

Beratnya tantangan perekonomian Jatim mulai dapat dilihat tahun 2019 ini. Sesuai data yang dimiliki Pemprov, pertumbuhan sektor perdagangan di Jatim menurun dari 6,29 persen menjadi 6,04 persen.

Kontribusi di sektor industri pengolahan juga melemah dari 7,55 persen pada 2018, menjadi 6,8 persen tahun ini. Sejatinya pelambatan ini juga terjadi secara nasional, bukan hanya di tataran regional seperti Jawa Timur.

Walaupun demikian, tapi Jatim masih bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang baik di angka 5,52 persen hingga triwulan ketiga 2019. “Kendati kita mengalami penurunan kinerja sektor industri pengolahan dan perdagangan, tapi kita masih di atas nasional. Bahkan kontribusinya terhadap nasional juga semakin meningkat,” jelas Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat memberikan refleksi 2019 dan prioritas program Pemprov 2020 di Ruang Bhinaloka Pemprov Jatim.

[irp]

Menurutnya, tahun ini kontribusi sektor industri pengolahan Jatim terhadap nasional menguat dari 22,09 persen pada tahun 2018 menjadi 22,62 persen. Sedangkan kontribusi perdagangan Jatim menguat dari 20,61 persen menjadi 21,01 persen.

Khofifah berharap, penguatan ini juga harus terjadi terhadap produktifitas UMKM, dan sektor perdagangan antar daerah maupun antar provinsi. “Yang patut kita syukuri adalah pertumbuhan ekonomi Jatim masih cukup solid. Masih di atas rata-rata nasional 5,04 persen dan kita akan terus meningkatkan kegiatan ekonomi UMKM. Karena dari sisi kredit, UMKM di Jatim jauh lebih kuat dari korporasi,” tuturnya.

Tidak hanya UMKM, namun Jatim juga harus membangun korelasi yang sama-sama tinggi terhadap provinsi lain. Khususnya 16 provinsi di Indonesia yang logistiknya disupport dari Jatim. “Ketika daya beli mereka tinggi, pasti akan memberikan signifikansi terhadap pertumbuhan ekonomi Jatim. Tapi kalau daya beli mereka rendah, maka juga akan berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi Jatim,” beber Gubernur perempuan pertama di Jatim tersebut.

Pada tahun 2020 sudah ditentukan beberapa target prioritas. Antara lain realisasi big data yang akan mendukung Jatim dalam memasuki era revolusi industry 4.0. “Melalui big data ini, efektifitas dan efisiensi perjalanan pemerintah juga akan tercapai,” tambah mantan Menteri Sosial RI era Jokowi-JK ini.

[irp]

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kanwil Jatim, Difi A Johansyah menambahkan, tahun ini kegiatan ekspor dan impor juga mengalami penurunan. Termasuk aktivitas kredit korporasi pun mengalami perlambatan.

Karena itu, kunci pertumbuhan ekonomi Jatim adalah tumbuh bersama. “Jatim harus bisa bersinergi dengan provinsi yang menjadi mitranya untuk tumbuh bersama mendongkrak pertumbuhan ekonominya,” tutur Difi A Johansyah.

Menurutnya, saat ini pola sinergi antar daerah menunjukkan aktivitas perdagangan cukup stabil untuk Jatim. Tapi belum sesuai harapan, karena mitra Jatim di Indonesia timur masih mengalami pelambatan.

“Kerjasama antar daerah sangat diperhitungkan untuk target pertumbuhan ekonomi kita yang mencapai 5,4 – 5,8 persen. Itu dengan base line pertumbuhan kredit yang melambat 7,7 persen,” tandasnya.

Jika pertumbuhan kredit di Jatim mencapai 9 persen seperti tahun lalu, lanjut Difi, pihaknya yakin pertumbuhan ekonomi di Jatim akan mampu mencapai maksimal hingga 5,8 persen. “Apalagi ditambah dengan potensi yang bisa dihasilkan dari Perpres 80 tahun 2019. Jika terealisasi dengan baik, akan melahirkan multiplier effect yang bagus juga,” pungkasnya. (nk/roh)

Editor :