KLIKJATIM.Com I Madiun - Siti Sulikah (22), seorang pekerja migran asal Madiun bernasib apes. Dia selama satu tahun enam bulan bekerja di luar negeri tanpa digaji dan selalu dipukuli majikan. Perempuan muda warga Dusun Punden RT 09 RW 03 Desa Nglanduk, Kecamatan Wungu ini merantau ke negeri tetangga sejak 2019 lalu karena minimnya pekerjaan layak di Madiun dan sekitarnya.
[irp]
Ia mengungkapkan, awal kisahnya menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke negara Malaysia pada tahun 2019 lalu melalui salah satu agen pekerja di Madiun. Lantaran ditinggal suami pergi yang entah kemana, tanpa kabar dan tanpa nafkah yang diberikan, Siti meninggalkan anak semata wayang yang kala itu masih berusia satu tahun untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di luar negeri.
“Saya berangkat tahun 2019 dan tahun 2021 ini bisa pulang sudah bersyukur,” ungkapnya.
Bukan nasib baik yang diterima, sejak kedatangannya di rumah majikan, Siti diperlakukan tidak baik. Ia mengaku hanya diberi beras satu gelas dan terlur satu butir untuk dijadikan bahan makan satu hari. Jika ingin menambah makanan atau jajanan ia harus rela potong gaji. Tidak hanya itu, ia pun harus menahan sakit hati karena sang majikan selalu memarahi bahkan hingga menyebutnya ‘goblok’. Yang lebih parah, majikan selalu memukul Siti setiap harinya pagi, siang, sore menggunakan tangkai sapu hingga tongkat besi.
“Dipukul setiap hari pagi, siang, malam sampai berdarah. Tidak ada yang tahu dipukuli, sempat dibenturin ke tembok juga,” tambahnya.
Gaji pun sejak awal tidak diberikan akan diberikan setelah dua tahun saat akan pulang. Sudah berusaha meminta kepada majikan dan selalu dijawab dengan alasan tidak punya uang.
Siti mempunyai satu teman sejawat, sesama pembantu rumah tangga disana, namun perlakuan majikannya sangat berbanding terbalik dengan perlakuan terhadap Siti. Temannya bebas, sedangkan dirinya dikurung.
“Sejak datang tidak boleh keluar, mau buang sampah pun tidak boleh yang disuruh teman saya. Butuh apa-apa dibelikan bos tapi harus potong gaji. Sering dicaci, dikatain goblok juga yang membuat sakit hati, pegang HP mau kasih kabar keluarga pun tak boleh," cerita perempuan 22 tahun ini.
Hingga akhirnya, tetangga yang mengetahui perlakuan majikan yang buruk terhadap Siti setiap hari melaporkannya ke Polisi Kerajaan Malaysia. Akhirnya, pihak kepolisian menjemput Siti dan dibawa ke rumah perlindungan selama tiga pekan. Membantu memulihkan psikis yang tertekan serta luka-luka akibat pukulan dari majikan.
Setelahnya, Siti dipindah ke imigrasi dan dibelikan tiket untuk pulang. Akhirnya ia dipulangkan pada tanggal 26 Mei lalu dan dikarantina di Asrama Haji Surabaya selama dua hari. Kemudian dilanjut karantina di Shelter Kabupaten Madiun baru kemudian dipulangkan ke rumah.
“Semua yang nanggung pihak kepolisian kerajaan sana, saya pulang tidak bawa uang sama sekali, sempat diberi uang teman di asrama haji Surabaya sana, dua orang masing-masing Rp 50 ribu untuk pegangan,” tandasnya.
Bak sudah jatuh tertimpa tangga, setelah bebas dari tekanan majikan sampai di rumah Siti harus menerima kabar duka bahwa sang ibu sudah meninggal dunia pada bulan April lalu. Anak kedua dari tiga bersaudara ini merasa terpukul yang mendalam.
“Sudah jauh-jauh saya pulang dan ternyata tidak bisa jumpa dengan ibu saya,” imbuhnya.
Kini ia tinggal di rumah sederhana di kampung halaman bersama ayah, kakak, adik, anaknya yang baru berusia tiga tahun dan neneknya yang sudah sangat tua.
“Semua surat-surat dan paspor saya masih dibawa agen untuk ngurus gaji itu, pihak polisi Malaysia juga berjanji akan membantu memintakan gaji saya. Ya berharap banget gaji itu diberikan,” tutup dia sambil berkaca-kaca. (*)
Editor : Redaksi