klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Diserang Covid-19, Tas Anyaman Produk Ponorogo Terus Berjaya

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Wabup Lisdyarita dan Sulatmi membuat tas anyaman bersama.
Wabup Lisdyarita dan Sulatmi membuat tas anyaman bersama.

KLIKJATIM.Com| Ponorogo - Hampir seluruh usaha terpukul karena Covid 19. Justru itu tidak berlaku untuk pengrajin tas anyaman dari plastik di Ponorogo, Sulamti.

[irp]

 UMKM Tas Anyaman ini juga mendapat perhatian oleh Pemkab Ponorogo. Wabup Ponorogo, Lisdyarita juga memakai tas anyaman kemanapun berada.

"Saya belum menyuruh atau mewajibkan PNS memakai tas ini. Namun sudah memulainya dari saya pribadi dan bu bupati. Kami  sudah memakai ini," klaimnya, Sabtu (24/4/2021).

Rupanya, kebiasaan itu diikuti oleh PNS di gedung 8. Dia melihat telah banyak yang memakai tas anyaman. "Apalagi kalau bikin peraturan wajib pasti banyak. Kita makai ini dulu," tambahnya.

Lisdyarita juga mengaku selalu menghadiahkan tas anyaman yang kebetuoan berkunjung ke Ponorogo. Misalnya ke istri Wagub Jatim, Aruming dan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa.

"Kemarin juga ada anggota DPR RI Ina Amania juga saya kasih. Harapannya dengan begitu semakin hits, " jelasnya.

Terakhir, dia berharap Sulatmi bisa terus menhembangkan. Menggaet ibu rumah tangga untuk berkreasi membuat tas anyaman.

"Menambah kegiatan ibu-ibu. Tentu membangkitakan ekonomi ponorogo bisa bangkit, " bebernya.

Sementara Sulamti mengaku jika dua tahun ini permintaan meningkat. "Padahal saya memulainya dari 2006. Sudaj 15 tahun, " ujar Sulamti, salah satu pengrajin tas anyaman di Ponorogo.

Di rumahnya di Desa Campursari, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo ini, Sulamti dan suami memulai membuka usaha. Awalnya mereka hanya berdua. Membuat tas berban rotan maupun bahan kaca.

Seiring berjalannya waktu, hanya dari bahan jali-jali. "Dulu ngambilnya dari pabrik Ngawi. Sekarang dari Surabaya, " katanya.

Dia mengatakan bahwa memproduksi dan menjual tas anyaman ada pasang surutnya. Omset akan terus menurun pada bulan Desember hingga Maret.

"Omset akan membaik pada April hingga November. 6000 tas tiap bulan bisa terjual. Kalau omset ya tinggal kalikan saja," terangnya.

Menurutnya dia tak meraup untung sendiri. Katrna dia juga mempekerjakan pengrajin di sekitar rumahnya. Ada 60 pengrajun yang setor kepada dirinya kemudian dijualkan.

"Bahan ya dari saya. Harganya di pasaran dari Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribuan," beber ibu 2 orang anak ini.

Dia menjelaskan membuat satu tas jika sudah mahir hanya perlu waktu satu jam saja. Dengan estimasi mengayam 15 kenit, mengunci 10 menit dan memnuat tali atau cantolan 30 menit.

Untuk ukuran, yang paling kecil panjang 33 cm, lebar 11 cm dan tingfi 20 cm. Bahan bakunya bukan permeter melainkan berat.

"Bahan baku kecil 1.5 ons, sedang 4 ons, besar 0.5 kg dan paling besar 7 kg, " tegasnya.

Saat ini, kata dia, permintaan meningkat. Dia tidak hanya memenuhi permintaan di bumi reog saja. Untuk area jatim, dia mengirim di Kediri, Banyuwangi, Ngawi, Madiun. Pun sampai ke pulau Dewata Bali.

"Jateng juga ke Kendal, Rembang. Yogya juga minta. Bekasi, Tangerang, Jakarta Pusat. Luar jawa ke Makassar, Lampung,  dan Tarakan," bebernya.

Masih kata Sulatmi, usaha tas anyaman ini bukan turun menurun. Namun dulunya di lingkungannya menghasilkan cupil dari bambu.

"Lalu saya belajar ke tetangga desa membuat tas anyaman. Saya tularkan ke lingkungan dan saudara. Banyak yang mau belajar, " tambahnya.

Dia mengaku awal-awal hanya menjual di sekitar sambit. Tetapi suaminya yang bernama Sugeng memberanikan diri untuk berjualan ke luar kota bermodalkan sepeda motor.

"Keliling ke Jatim sampe jauh Jember. Lalu ke Jateng sampe ke Rembang. Sampai akhirnya dititipkan ke pasar-pasar, " bebernya.

Bukan hanya itu, tas anyamannya juga dilirik oleh agen besar. Tetapi pasar yang sempat digaet lebih dahulu tetap dikerjaian.

Berbicara pasang surut, Sulatmi mengaku pernah bangkrut pada 6 tahun lalu. Karena persaingan pasar dan harga.

Dia mengenang saat itu presiden Jokowi pertama dilantik pertama 2014, bahan bakar minyak langsung naik Rp 2000. Sementara saat itu bulan November.

"Seperti yang saya bilang pertama. Kalau November ke Desember kan omset mwnurun. Kenyataan bbm naik. Harga bahan naik, " paparnya. 

Dia pun tidak bisa mengejar omset. Bahkan pengeluaran sama pemasukan lebih banyak pengeluaran.

"Sampai saya bangkit diajak oleh teman menjual via online. Lalu banyak peminatnya hingga saat ini, " pungkasnya. (bro)

Editor :