KLIKJATIM.Com | Tulungagung – Peta kawasan kumuh di Kabupaten Tulungagung tercatat seluas 325 hektar yang tersebar di lima kecamatan. Di antaranya meliputi Kecamatan Tulungagung, Boyolangu, Kauman, Kedungwaru dan Ngunut. Dan rencananya tahun ini akan dimulai penanganan dengan dana APBN.
[irp]
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Kabupaten Tulungagung, Anang Pratistianto mengatakan, untuk rencana perbaikan ditangani menggunakan anggaran dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Tahap awal pada tahun 2021 ini akan mulai dilakukan perbaikan untuk 56 hektar kawasan kumuh.
"Tahun ini 56 hektar dulu, di 2 kecamatan yakni Kecamatan Tulungagung dan Kedungwaru," ujar Anang, Kamis (8/4/2021).
Sedangkan sisanya baru akan diselesaikan dalam 2 tahun mendatang secara berturut turut.
Sementara itu PPK PKP di Jawa Timur Kementrian PUPR, Posma PH Simanjuntak mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan anggaran sekitar Rp 26,39 milliar untuk rencana perbaikan kawasan kumuh tahun ini di Kabupaten Tulungagung. "Tahun ini 7 lokasi kawasan kumuh di 6 kelurahan dan 1 desa yang akan menjadi sasaran kita," ungkapnya di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso.
Tujuh lokasi tersebut tersebar di Kelurahan Tertek, Kutoanyar, Sembung, Botoran, Panggungrejo dan Kenayan, Kecamatan Tulungagung. Sedangkan satu desa lainnya adalah Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru.
Untuk jenis program pengentasan kawasan kumuh kali ini rata-rata difokuskan pembuatan drainase. "Kalau kita infrastruktur drainase yang kita upayakan untuk pengentasan kawasan kumuh," terangnya.
Selain masalah drainase juga ada beberapa indikator lainnya sebagai kawasan kumuh. Misalnya penanganan sampah, akses warga untuk mendapatkan air minum, ketidak teraturan bangunan dan penanganan kebakaran juga menjadi poin dalam pemetaan kawasan kumuh.
"Dari masing-masing poin tersebut bisa dikategorikan seberapa kumuh satu wilayah," jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan, pihaknya juga akan menyiapkan mental warga yang ada di dalam kawasan kumuh. Hal ini dilakukan agar pola pikir warga bisa berubah dan ikut menjaga, serta melestarikan drainase yang dibangung dalam program ini.
"Kita menggandeng psikolog untuk mengajak warga bebicara, tujuannya agar muncul kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga fasilitas yang dibangun," pungkasnya. (nul)
Editor : Iman