klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Selain Fokus Produk, Arumi Harap Pengrajin Juga Peduli Lingkungan

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Arumi Bachsin menjadi narasumber sosialisasi industri hijau di Hotel Crown Victoria Kab. Tulungagung, Kamis (25/3/2021) sore. (nul)
Arumi Bachsin menjadi narasumber sosialisasi industri hijau di Hotel Crown Victoria Kab. Tulungagung, Kamis (25/3/2021) sore. (nul)

KLIKJATIM.Com | Tulungagung - Ketua Dekranasda Jawa Timur (Jatim), Arumi Bachsin Emil Dardak meminta seluruh pengrajin di Jatim lebih peduli dengan keberlangsungan lingkungan hidup di sekitar. Misalnya limbah cair dari pewarna sintetis batik akan berdampak buruk terhadap lingkungan, jika limbah tersebut langsung dibuang tanpa diolah terlebih dahulu. Sebab itulah, dia meminta pengrajin agar memperhatikan hal tersebut.

[irp]

"Harapannya seluruh industri di bidang apapun, khususnya di bidang kerajinan dapat semakin baik semakin efisien semakin efektif di segala bidang. Bukan hanya dari segi produksinya, tapi juga efek terhadap lingkungan hidup di sekitarnya," ujar Arumi, Kamis (25/3/2021).

"Apalagi bentuk limbah cair yang masuk langsung ke saluran-saluran air, itu kan pasti lebih cepat menyebar. Kalau itu masuk ke dalam got, kemudian terus sampai ke irigasi persawahan, perkebunan, itu zat-zat kimia terutama yang ada di pewarna kimia, tentu saja tidak baik dan berbahaya bagi lingkungan," lanjutnya.

Arumi menambahkan, limbah pewarna batik juga akan berpengaruh terhadap kesehatan. Pasalnya, efek negatif pewarna kimiawi dalam proses pewarnaan batik adalah risiko terkena kanker kulit.

Akibatnya, kulit tangan terus-menerus bersinggungan dengan pewarna kimia. Efeknya sangat berbahaya sehingga dapat memicu kanker kulit.

"Yang terpenting, jangan lupa bahwa limbah pewarna tersebut bisa juga berdampak langsung ke kita, si manusianya, efek-efek terhadap kesehatan kita dan seterusnya," imbuhnya.

Terkait hal tersebut, dia berpesan, bahwa penting sekali bagi pengrajin batik untuk mengetahui cara pengolahan limbah produksinya sebelum membuang. "Harapannya itu untuk menjaga tanah kita menjaga lingkungan kita supaya tetap sehat," pesannya.

Pada kesempatan itu, Arumi menyampaikan, bahwa menjaga dan peduli lingkungan juga dapat dilakukan dengan menggunakan limbah kertas sebagai media canting cap untuk produksi batik.

"Keuntungannya dapat menekan biaya produksi karena terbuat dari limbah kertas, lebih efisien dan tidak menguras tenaga karena lebih ringan dari canting cap umumnya yang terbuat dari tembaga," tandasnya. (nul)

Editor :