klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Harga Lombok Masih Mahal, Tim Satgas Pangan Jatim Pantau Pasar Keputran

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Tim Satgas Pangan Jatim saat memantau harga lombok di Pasar Keputran Surabaya
Tim Satgas Pangan Jatim saat memantau harga lombok di Pasar Keputran Surabaya

KLIKJATIM.Com | Surabaya -  Tingginya harga lombok sejak sebulan terakhir mendapat perhatian Tim Satgas Pangan Jatim. Secara  khusus Tim Satgas Pangan menggelar monitoring dan memantau harga dan ketersediaan bahan pokok (Bapok) khususnya cabe rawit, di Pasar Keputran Surabaya.

[irp]

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur, Drajat Irawan, mengatakan, harga dan stok kebutuhan pokok di Jatim cenderung stabil. Komoditas yang naik harga hanya cabai rawit tetapi sekarang sudah mulai turun.

“Kemarin Selasa (16/03/2021) harga cabe rawit di Pasar Keputran masih Rp 114 ribu/kg, tetapi hari ini sudah berangsur-angsur turun menjadi Rp 100 ribu /kg diharapkan harga cabe di pasar keputran tetus turun dan bisa diikuti oleh pasar lainnya di Surabaya,” ungkap Drajat.

Menurut data dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Disperindag Jawa Timur pada 18 Maret 2021, harga beras tercatat antara Rp 9.600 hingga Rp 11.000/kg. 

Sementara daging sapi Rp 109 ribu/lg, gula pasir dan minyak goreng Rp 12 ribu/kg. Sedangkan telur ayam ras Rp22 ribu/kg dan daging ayam broiler Rp 32.000/kg dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 34 ribu/kg.  “Artinya, masih di bawah HET. “Harga bapok cukup stabil,” papar Drajat.

Drajat menambahkan, untuk daerah yang terkena genangan air bisa memperbaiki saluran irigasi lahan tanaman cabai agar hasil tanaman cabai dan kapasitas produksinya bisa berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan. Pemprov Jatim juga telah memberikan Surat kepada pemerintah kabupaten/kota untuk terus melakukan monitoring dan melakukan upaya agar pengamanan panen cabai bisa berjalan dengan lancar.

“Kenaikan harga cabai ini murni karena alam, curah hujan yang tinggi dan turun lebih cepat dari perkiraan. Panen cabe diperkirakan dilakukan mulai Minggu akhir Maret hingga April, sehingga kita harapkan curah hujan bisa menurun, khususnya menjelang Hari Besar Keagamaan nasional (HBKN) Ramadhan dan Idul Fitri 2021, ketersediaan aman serta harganya stabil. Konsentrasi kita sekarang adalah produksi berjalan sesuai rencana dan proses pendistribusian sampai pasar juga lancar,” pungkas Drajat.

Ketua Paguyuban Petani Cabai Indonesia Jawa Timur, Suyono, mengatakan bahwa kenaikan harga cabai disebabkan oleh kondisi cuaca/iklim yang ekstrim di beberapa sentra produksi serta adanya curah hujan yang tinggi.

Hal ini menyebabkan banyak lahan tanam di dataran rendah tergenang air dan berakibat pada kerusakan cabai. Selain itu juga  serangan penyakit seperti daun keriting, buah rontok, serangan lalat buah dan penyakit lainnya, hampir merata di semua sentra produksi cabai di Jawa Timur.

“Kondisi tersebut mengakibatkan produksi cabai rawit di sentra produksi di Kabupaten Kediri berdasarkan luas tanam mengalami penurunan sekitar 10 persen sampai dengan 15 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya,” ungkap Suyono.

Suyono mengatakan bahwa faktor utama kenaikan harga cabai adalah cuaca. Suyono memprediksi bahwa pada pertengahan Maret sampai dengan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 2021, harga cabai rawit mampu berangsur normal Kembali dan stabil.

Asumsi tersebut berdasarkan panen yang diperkirakan dilakukan pada bulan Maret hingga akhir Mei pada sentral produksi cabai di wilayah Kediri dan Mojokerto. Kemudian juga beberapa kabupaten lain seperti Blitar, Tuban, Malang, dan Probolinggo. (ris)

Editor :