KLIKJATIM.Com I Gresik - Permasalahan kekurangan kebutuhan dokter spesialis di RSUD Umar Mas’ud yang berada di Pulau Bawean, masih belum terselesaikan secara tuntas meskipun ada solusi jangka pendek. Khususnya, kebutuhan dokter spesialis anestesi.
[irp]
“Padahal, kebutuhan dokter spesialis anestesi sangat vital. Tanpa ada rekomendasi dari dokter spesialis anestesi, maka kalau ada pasien yang membutuhkan tindakan operasi, tak bisa dilakukan,. Termasuk, klaim BPJS Kesehatan tak bisa dicover, ”ungkap Anggota DPRD Gresik dari Pulau Bawean, Bustami Hazim, Kamis (11/3/2021).
Untuk itu, pihaknya berharap permasalahan tersebut bisa dituntaskan. Sebab, berkaca dari beberapa kasus yang lalu di Pulau Bawean, ada ibu hamil yang harus kehilangan buah hatinya karena tak bisa dilakukan tindakan operasi. Maka, pasien harus dibawa ke Gresik untuk bisa dilakukan tindakan operasi. Sebelum kapal bersandar sampai di Gresik, pasien sudah kehilangan buah hatinya.
“Jangan sampai terjadi lagi. Kita mendapat informasi kalau perawat penata ahli anestesi bisa menjadi merekomendasikan untuk tindakan operasi. Selama ini, perawat penata anestesi secara bergiliran dikirim oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik ke RSUD Umar Mas’ud,” paparnya.
Terpisah, Kepala Dinkes Gresik drg Saifudin Ghozali membenarkan kalau kekurangan memenuhi kebutuhan dokter spesialis anestesi untuk RSUD Umar Mas’ud. Selama ini, Dinkes Gresik ada ketergantungan dari Pemprov Jatim dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Pendayagunaan Dokter Spesialis (PGDS).
“Kita memang masih ketergantungan untuk dokter spesialis anestesi dari pusat. Tapi, kita sudah kirim perawat penata anestesi ke RSUD Umar Mas’ud. Perawat penata anestesi boleh merekomendasi tindakan operasi, tetapi tetap dalam koordinasi pusat,”paparnya.
Ditambahkan Saifudin Ghozali, pihaknya telah menugaskan perawat penata anestesi di RSUD Ibnu Sina untuk bertugas di RSUD Umar Mas’ud selama 3 bulan. Nanti secara bergiliran dengan perawat penata anestesi yang ada di RSUD Ibnu Sina wajib bertugas disana selama masih belum terisi kebutuhan dokter spesialis anesetesi.
“Setelah perubahan peraturan bupati (perbup) tentang insentif tenaga kesehatan, langsung kita kirim perawat anestesi ke Pulau Bawean. Kasihan kalau mereka hanya ditugaskan ke Pulau Bawean selama 3 bulan meninggalkan keluarganya tanpa ada insentif. Makanya, begitu insentif cair, maka langsung berangkat,” terang Ghozali.
Ghozali menambahkan, salah satu penyebab dokter spesialis anestesi enggan bertugas di Pulau Bawean karena insentif yang diberikan oleh Pemkab Gresik terlalu kecil dibandingkan daerah lain.
“Kalau untuk perawat penata anestesi, insentifnya sekitar Rp 10 juta,” pungkas dia. (bro)
Editor : Redaksi
Polisi Amankan Pencuri HP Warga Sukorejo Lamongan
Polres Lamongan mengamankan pria berinisial M (41), warga Kecamatan Kembangbahu, yang diduga mencuri satu unit handphone (HP) milik warga di Sukorejo, Lamongan…
PLN UP3 Situbondo Lakukan Penyambungan Gratis 81 Rumah
PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Situbondo memberikan bantuan penyambungan listrik gratis kepada 81 rumah milik umanak dan guru Pondok…
Polisi Tembak Kaki Jambret Penyebab Tewasnya ASN BPN Surabaya
Polisi berhasil menangkap satu dari dua pelaku penjambretan yang menyebabkan meninggalnya Widya Riskyanti (28), seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang…
Isi Saldo Digital Rp400 Ribu dengan Uang Palsu, Remaja 17 Tahun Diciduk Polisi
Seorang remaja berinisial WA (17), warga Kabupaten Jombang, diamankan polisi setelah diduga menggunakan uang palsu untuk mengisi saldo uang digital di sebuah to…
RUPS PLN Tetapkan Perubahan Susunan Direksi, Yusuf Didi Setiarto sebagai Wakil Direktur Utama
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun 2026 PT PLN (Persero) telah diselenggarakan di kantor Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BUMN),…
Bea Cukai Bojonegoro Musnahkan 10,3 Juta Batang
Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Bojonegoro memusnahkan sebanyak 10.357.840 batang rokok ilegal…