KLIKJATIM.Com | Gresik — Pengurus Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Gresik turut prihatin dengan kejadian kasus perundungan yang melibatkan anak-anak di Gresik. Apalagi insiden itu sempat viral dan berujung ke pihak berwajib.
[irp]
Ketua PC Fatayat NU Gresik, Ainul Farodisa mengaku sangat menyesalkan terhadap kejadian ini. Pasalnya kasus demikian bukan hanya sekali, tapi kerap kali masih terjadi di Indonesia termasuk di Gresik. Beberapa bulan lalu kasus perundungan yang melibatkan anak-anak dan berujung pembunuhan juga terjadi di Bungah. Motifnya pun sama, karena sakit hati.
“Saya melihat anak-anak sekarang belum siap dengan kritik, mereka melakukan tindakan secara emosional,” kata Farodisa, Sabtu (9/1/2021).
Dan mirisnya lagi, laporan kasus kekerasan terhadap anak juga cenderung naik dari tahun ke tahun. Selama kurun waktu 9 tahun terakhir sejak 2011 hingga 2019, tercatat ada 37.381 aduan yang masuk ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Lebih rinci untuk pelaporan kasus bullying atau perundungan di dunia pendidikan maupun media sosial mencapai 2.473 laporan. Artinya, jumlah anak sebagai korban maupun pelaku kekerasan sangat tinggi.
“Hal tersebut merupakan bukti bahwa upaya pencegahan kekerasan terhadap anak yang dilakukan baik oleh keluarga, pemerintah dan masyarakat masih belum membuahkan hasil yang baik,” ungkapnya.
Dijelaskan, menurut penelitian yang dilakukan oleh Douglas Gentile dan Brad Bushman dalam Psychology of Popular Media Culture disebutkan bahwa anak-anak yang terlihat baik, juga memiliki risiko untuk menjadi seorang pengganggu dan memiliki beberapa perilaku agresif. Agresifitas fisik ini diukur dengan perkembangan diri, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan anak.
“Dari beberapa faktor tersebut, keluarga sangat mempengaruhi pribadi anak dari positif ke negatif,” tegasnya.
Sehingga pihaknya mengingatkan kembali tentang pentingnya pendidikan utama dalam ruang lingkup keluarga untuk perkembangan anak. Orang tua menjadi madrasah al ula atau pendidikan pertama dalam rangka menciptakan generasi hebat dan berakhlaqul karimah.
“Terlebih pada saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, orang tua, lingkungan dan pemerintah harus melakukan sinergitas lebih kuat terhadap pendidikan anak, karena mereka tidak lagi mengikuti proses belajar di sekolah,” tambahnya.
Menurut dia, konsep program Pengasuhan Anak Berbasis Komunitas yang digodok dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Perempuan Kabupaten Gresik harus diseriusi dan dilaksanakan. Dengan begitu kelompok masyarakat di sekitar tempat kejadian langsung tanggap dan tidak terkesan apriori.
“Alhamdulillah Fatayat juga telah melaksanakan kegiatan ini dengan pilot project di Desa Sukorejo, Kebomas, Gresik yang merupakan kawasan orang tua pekerja industri,” jelasnya.
Selain itu peran aparat keamanan harus lebih diperketat terkait penjagaan di ruang-ruang publik, khususnya terhadap anak di bawah umur. “Kami berharap Gresik menjadi Kabupaten Layak Anak (KLA) dengan lingkungan aman dan nyaman untuk perkembangan mereka. Tentunya seluruh elemen dari orang tua dan semua stakeholder saling bahu-membahu mengoptimalkan pengasuhan anak berbasis komunitas ini,” harapnya. (nul)
Editor : Redaksi