KLIKJATIM.Com | Jombang – Ketua TP PKK sekaligus Ketua Pembina Posyandu Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, menegaskan pentingnya penguatan kelembagaan Posyandu serta pemberdayaan kader sebagai pilar utama meningkatkan kualitas pelayanan dasar masyarakat.
Langkah strategis ini difokuskan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal sekaligus memacu percepatan penurunan angka stunting di Jawa Timur.
Pesan tersebut disampaikan Arumi saat menghadiri Kegiatan Penguatan Kelembagaan Posyandu melalui Pemberdayaan Kader dan Pemberian Bahan Makanan Tambahan (PBMT) Balita dalam Rangka Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 di Wisata Sumber Celeng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Rabu (04/11/2026).
Arumi menjelaskan, sejalan dengan lahirnya Permendagri Nomor 13 Tahun 2024 tentang Pos Pelayanan Terpadu, peran Posyandu kini bertransformasi menjadi wadah partisipasi masyarakat yang mencakup enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM). Sektor tersebut meliputi pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, hingga sektor sosial.
"Transformasi Posyandu memberikan pemahaman bahwa kebutuhan masyarakat saling berkaitan. Kesehatan anak tidak bisa dilepaskan dari kualitas pengasuhan, pendidikan, air bersih, sanitasi, kelayakan tempat tinggal, hingga kondisi sosial keluarga," ujar Arumi.
Ia menambahkan, di tengah transformasi tersebut, keberadaan kader Posyandu menjadi kian vital karena berinteraksi langsung dengan warga sekaligus menjadi jembatan penghubung antara kebutuhan masyarakat dan layanan dasar pemerintah. Arumi mengapresiasi dedikasi para kader yang terus melayani tanpa lelah.
Guna mengoptimalkan kinerja Posyandu, Arumi mendorong percepatan pendataan dan digitalisasi melalui Sistem Informasi Posyandu (SIP). Saat ini, sebanyak 1.392 Posyandu di Jawa Timur telah terregistrasi dalam aplikasi SIP yang tersebar di enam kabupaten dan satu kota, yang akan terus diperluas agar perencanaan intervensi Pemprov Jatim makin tepat sasaran.
Mengenai capaian stunting, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting Jawa Timur berada di angka 14,7 persen—jauh lebih rendah dibanding angka rata-rata nasional sebesar 19,8 persen. Sementara untuk Kabupaten Jombang tercatat sebesar 17,3 persen.
"Angka 14,7 persen ini patut kita syukuri, tetapi bukan berarti pekerjaan kita selesai. Masih ada anak-anak yang membutuhkan perhatian, pendampingan, dan intervensi secara berkelanjutan," tegasnya.
Sebagai bentuk intervensi konkret pada tahun 2026, Pemprov Jatim memfasilitasi 9.750 paket Bahan Makanan Tambahan (PBMT) bagi balita dan 750 paket goodie bag bagi kader Posyandu yang disalurkan ke 30 kabupaten/kota dengan prevalensi stunting tertinggi. Masing-masing daerah menerima alokasi 325 paket PBMT berisi beras, telur ayam, susu cair, kacang hijau, gula, dan minyak goreng, serta 25 paket perlengkapan lapangan bagi kader.
Baca juga: Gali Lahan Rumah di Mojowarno Jombang, Warga Temukan Artefak Jobong Kuno Era Candi Pandegong
Arumi mengimbau para orang tua agar memanfaatkan paket PBMT tersebut sebagai pelengkap nutrisi harian anak dan bukan pengganti makanan utama. Ia juga mengajak para ibu untuk rutin membawa balitanya ke Posyandu agar pemantauan tumbuh kembang dapat terselenggara secara berkala.
Ia memungkasi dengan menekankan pentingnya sinergi kolektif antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pihak desa/kelurahan, hingga jajaran TP PKK di semua jenjang.
"Keberhasilan pencegahan stunting tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Mari kita jadikan Posyandu semakin kuat dan kader semakin berdaya. Dengan kolaborasi seluruh pihak, kita optimistis dapat mewujudkan keluarga yang sehat dan generasi Jawa Timur yang tumbuh optimal, cerdas, serta berkualitas," pungkas Arumi.
Editor : Fatih