KLIKJATIM.Com | Sampang – Di tengah optimisme Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang mengejar target produksi garam rakyat sebesar 310.000 ton pada tahun 2026, kondisi di tingkat tapak justru berbanding terbalik dengan harapan para petambak. Memasuki musim panen, harga garam dilaporkan mengalami penurunan signifikan hingga mencapai Rp30 ribu per karung.
Anjloknya harga tersebut memicu keprihatinan karena target capaian produksi yang tinggi berpotensi kehilangan makna apabila tidak diimbangi dengan stabilitas harga pasar. Para petani garam berharap pemerintah tidak sekadar berfokus pada kuantitas capaian volume produksi, tetapi juga hadir memberikan regulasi yang mampu menjaga kepastian harga agar tetap menguntungkan.
Baca juga: Buktikan Kencangnya CBR Series, Pebalap Astra Honda Raih Kemenangan di ARRC Mandalika 2026
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Sampang, Moh. Mahfud, memaparkan bahwa hingga akhir Juli 2026, akumulasi produksi garam sementara diperkirakan telah menembus angka di atas 50.000 ton. Angka ini masih bersifat sementara lantaran proses rekapitulasi data dari seluruh sentra produksi masih terus berjalan.
"Produksi sementara sudah di atas 50 ribu ton. Dengan cuaca yang mulai mendukung sejak pertengahan Juli, kami optimistis target 310 ribu ton masih bisa dicapai hingga akhir musim garam," terang Mahfud, Senin (10/8/2026).
Mahfud menjelaskan bahwa titik tumpu produksi garam rakyat di Kabupaten Sampang masih terpusat di tiga wilayah utama, yakni Kecamatan Sreseh, Pangarengan, dan Kecamatan Sampang. Ketiga kawasan tersebut konsisten menjadi penyumbang pasokan terbesar tiap tahunnya.
Baca juga: Lewat Revolusi 888, SGN Pacu Kinerja Pabrik Gula Hingga Tembus Rendemen 8 Persen
Guna mengejar target tahunan, Pemkab Sampang memilih tidak membuka pembukaan lahan tambak garam baru. Strategi utama diarahkan pada optimalisasi lahan eksisting melalui metode intensifikasi, baik berupa perbaikan struktur tambak menggunakan alat berat maupun pengerjaan manual.
"Fokus kami bukan menambah luasan tambak, tetapi meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada melalui program intensifikasi agar hasil produksi semakin optimal," tegas Mahfud.
Baca juga: Semarakkan HUT ke-81 RI, Bupati Yes Buka Sound Festival Kemerdekaan 2026 di Kawasan Gajah Mada
Kendati optimisme produksi terus dipacu, merosotnya harga garam di pasaran tetap menjadi persoalan krusial yang membutuhkan penanganan segera. Para petambak berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat mengambil langkah konkret untuk memperkuat tata niaga garam nasional, memperluas penyerapan hasil panen oleh industri, serta menetapkan batas harga yang layak di tingkat petani.
Tanpa adanya intervensi dan perlindungan harga dari pemerintah, melimpahnya volume panen dikhawatirkan tidak akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan para petambak garam di Madura.
Editor : Fatih