Melalui Besali Studi Kultural, Enam Kelompok Bersiap Racik Narasi Baru Kota Pudak

Reporter : Much Taufiqurachman Wahyudi
Melalui Program Besali Studi Kultural 2026 yang diinisiasi oleh @gangsebelah.co, rangkaian perjalanan menyusun Gresik dalam narasi.

KLIKJATIM.Com | Gresik – Di tengah pesatnya laju industrialisasi, ekspansi kawasan pabrik, dan transformasi wilayah yang terus bergulir, kebutuhan untuk menghadirkan sudut pandang baru dalam membaca realitas sosial di Kabupaten Gresik menjadi semakin krusial.

Berangkat dari urgensi tersebut, Program Besali Studi Kultural 2026 resmi menancapkan langkah awalnya. Rangkaian kegiatan program belajar bersama ini dibuka melalui Kelas Pengantar Program yang berlangsung khidmat di Creative Hubs Gresiknesia.

Baca juga: Balon Udara yang Diduga Bermuatan Petasan Meledak di Atap Rumah Warga Gresik, Dua Orang Terluka Ringan

Agenda ini mempertemukan enam kelompok penyaji terpilih dengan para fasilitator lintas keilmuan dan praktisi kebudayaan. Pertemuan ini menjadi titik mula bagi proses riset, observasi, serta pembacaan mendalam terhadap denominasi pengalaman sosial-budaya yang hidup di akar rumput masyarakat Gresik.

Keragaman latar belakang kolektif menjadi pilar utama dalam gerakan literasi budaya ini. Enam kelompok yang lolos kurasi terdiri dari Power Art (Komunitas Seni), Gresik Book Party (Klub Baca),  CYG Team (Duta Wisata),  DKV UISI (Akademisi), Niti Narasi (Kelompok Kepenulisan),  dan Kronika Smanim (Pecinta Sejarah). 

Heterogenitas ini mencerminkan sebuah keyakinan kuat bahwa khazanah pengetahuan tentang Gresik tidak sepatutnya dimonopoli oleh satu disiplin ilmu saja. Narasi wilayah ini dinilai tumbuh subur dari persilangan pengalaman, praktik komunal, serta cara unik warga dalam memaknai keseharian mereka.

Melalui Besali Studi Kultural, para penyaji ditantang melakukan penelusuran karib terhadap fenomena yang kerap luput dari radar publik. Mulai dari rekonstruksi ingatan kolektif, eksplorasi ruang sosial, hingga dinamika domestik yang membentuk identitas Gresik dari waktu ke waktu.

Selama ini, corak pembangunan, angka-angka statistik, dan peristiwa besar kerap mendominasi cerita tentang Gresik. Kehadiran program ini diharapkan mampu mengisi ruang kosong dengan mencatat sejarah keseharian warga yang selama ini tidak terdokumentasi.

Baca juga: Pemkab Gresik Siapkan Pilkades 2026 dengan Sistem Digital E-Voting

Selama beberapa bulan ke depan, proses pendampingan intensif bersama fasilitator akan bergulir. Output dari pembacaan kritis keenam kelompok ini nantinya akan dikonversi menjadi produk tekstual berupa majalah elektronik (e-magazine) serta materi presentasi publik.

Puncaknya, seluruh hasil riset warga ini akan disajikan dalam helatan tahunan Festival Menjadi Gresik 2026 yang diinisiasi oleh Yayasan Gang Sebelah pada Agustus mendatang. Tahun ini, festival tersebut mengangkat tema filosofis: "Dapur Saji".

Tema ini memandang Gresik sebagai wilayah yang terus mengolah perjumpaan budaya dan pengalaman sosial. "Dapur" di sini diposisikan melampaui sekat ruang domestik, melainkan sebuah metafora tempat fermentasi pengalaman menjadi pengetahuan. Sementara "Saji" merupakan manifestasi bagaimana pengetahuan lokal tersebut dihidangkan kembali kepada khalayak luas melalui medium arsip, film, tulisan, pameran, hingga pertunjukan seni.

Baca juga: Sambut Libur Sekolah, Hotel Santika Gresik Hadirkan Promo Staycation 'School Holiday is Coming'

Direktur Festival Menjadi Gresik 2026, Hidayatun Nikmah, menegaskan bahwa Besali Studi Kultural merupakan ikhtiar kolektif untuk menempatkan warga sebagai aktor utama sejarah mereka sendiri.

“Menjadi Gresik berangkat dari keyakinan bahwa warga bukan sekadar objek yang diceritakan, melainkan subjek yang memiliki otoritas penuh untuk mengolah dan menyajikan cerita mereka sendiri. Festival ini berupaya membuka ruang agar pengalaman warga dapat hadir sebagai pengetahuan yang hidup,” cetus Hidayatun.

Melalui program ini, Yayasan Gang Sebelah berharap dapat melahirkan tumpukan narasi alternatif yang memperkaya pemaknaan atas realitas Kota Pudak. Sebab pada akhirnya, sebuah daerah tidak hanya ditopang oleh infrastruktur fisik yang kasat mata, melainkan oleh rantai cerita dan ingatan yang terus dirawat, dipertukarkan, serta diwariskan oleh warganya sendiri.

Editor : Fatih

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru