Poros yang Hilang

Reporter : Ratno
Dewi Musdalifah

Penulis : Dewi Musdalifah

Refleksi 1 Muharram

Baca juga: Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Pemkab Lamongan Gelar Doa Bersama hingga Pawai Lampion

Ada kesadaran pelan yang merambat dalam diriku, pagi ini.

Sebuah pagi yang tiba-tiba jernih setelah beberapa hari hidup terasa seperti berjalan di dalam kabut.

Beberapa hari kesehatanku menurun, dan pikiran penuh sekali. Sampai akhirnya pagi tadi aku pahami penyebabnya.

Di hari-hari belakangan, Allah kerap hadir di pinggir kesadaranku bukan di pusatnya. Ternyata itulah sumber rapuhnya seluruh yang ada dalam diri.

Pikiran menjadi rancu, karena lepas dari jangkarnya. Energi berantakan karena tak terkoneksi, dan tubuh pun berdiri dengan molekul yang tak terhubung dengan titik tumpu semesta. 

Maka semuanya menjadi tak tertanggung, kolaps.
Hidup di dunia seperti masuk dalam roda yang sangat cepat berputar, sehingga seluruh komponen dalam diri ikut arus perputaran yang cepat. 

Terkoneksi melalui sholat, dzikir, mengingat Allah dalam bentuk apapun adalah titik berhenti dan kembali pada porosnya.

Sehingga kata-kata Nabi Muhammad SAW ketika mengatakan pada Bilal saat menggali parit dalam perang Khandaq: istirahatkan kami dengan sholat, bermakna demikian.

Dalam perang itu, bukan hanya tubuh yang terkuras. Parit digali bukan semata strategi perang, ia adalah pengakuan bahwa manusia, dalam keterbatasannya, harus menemukan cara untuk tetap berdiri. 

Baca juga: Sambut Tahun Baru 1448 Hijriah, Gubernur Khofifah Ajak Jemaah Perkuat Kesalehan Sosial dan Semangat Tolong-Menolong

Dan Nabi Muhammad SAW yang paling paham tentang berdiri di hadapan Allah, tahu bahwa tubuh yang lelah dan jiwa yang tercerabut dari porosnya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad, bahwa Nabi Muhammad SAW berkata kepada Bilal bin Rabah: "Arihna biha ya Bilal", istirahatkan kami dengannya, wahai Bilal. 

Kata arihna berasal dari akar raha, yang dalam bahasa Arab bermakna ketenangan jiwa yang dalam, bukan sekadar berhenti dari aktivitas fisik. Dan kata biha merujuk pada sholat, menjadikan sholat bukan sekadar kewajiban, tapi napas. 

Bilal pun bukan sembarang orang yang dipilih Nabi Muhammad SAW untuk mengumandangkan azan .

Ia adalah mantan budak yang paling tahu apa artinya tubuh yang tersiksa namun jiwa yang merdeka. Suaranya memanggil bukan hanya telinga, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Maka yang dimintanya kepada Bilal bukan tidur, bukan makan, tapi azan. Karena dalam sholat, seluruh yang berserakan itu dipanggil pulang.

Baca juga: Pawai Lampion Buka Semarak Tahun Baru Hijriah 1448 H di Lamongan

Gravitasi semesta bekerja diam-diam, tidak meminta izin atau menunggu siap. Demikian pula dengan jiwa yang kehilangan porosnya: tidak ambruk sekaligus, hanya perlahan-lahan kehilangan bobot, hingga suatu pagi terbangun dan merasakan bahwa sesuatu yang mendasar telah bergeser tanpa bisa menamai apa.

1 Muharram adalah undangan untuk menamai itu. Untuk berhenti sebentar dari roda yang berputar, dan bertanya: di mana porosku?

Hijrah bukan hanya perpindahan dari Mekah ke Madinah. Ia adalah keberanian untuk menemukan apa yang membuat lepas, dan melangkah menuju apa yang mengembalikan pada diri yang paling dalam.

Kadang hijrah itu tidak jauh. Hanya sejarak sajadah.

Penulis Adalah Pengajar SMA Muhammadiyah 1 Gresik

Editor : Ratno

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru