Korban Diduga Keracunan MBG di Jember Bertambah Jadi 22 Anak

Reporter : Muhammad Hatta
Satgas MBG Jember Achmad Imam Fauzi melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur penyedia MBG bersama perwakilan BPOM Jember

KLIKJATIM.Com | Jember - Jumlah korban dugaan keracunan massal usai menyantap menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, terus bertambah. 


Hingga Kamis (21/5/2026), tercatat total 22 anak dari sebelumnya ada 18 orang. Para korban diketahui dari jenjang PAUD dan TK mengalami gejala mual, muntah, hingga lemas setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan oleh Dapur SPPG Al Mubarok Kaliwates Yayasan 88 Berkah di Jalan Teratai, Kecamatan Kaliwates.

Baca juga: Bikin Resah Warga, Pemuda di Jember Rekayasa Aksi Begal Demi Dapat Uang Orang Tua


Kasus tersebut kini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Jember. Ketua Satgas MBG Jember yang juga Penjabat (Pj.) Sekretaris Daerah Jember, Achmad Imam Fauzi, turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur penyedia MBG bersama perwakilan BPOM Jember dan sejumlah pejabat dinas terkait, guna menelusuri penyebab pasti insiden tersebut.


Berdasarkan data sementara, dari total 22 korban, sebanyak empat anak menjalani perawatan di RS Kaliwates, satu anak dirawat di Puskesmas Kaliwates, enam anak mendapat penanganan di Puskesmas Jember Kidul, sedangkan 11 anak lainnya menjalani rawat jalan. Seluruh korban disebut dalam kondisi membaik setelah mendapat penanganan medis intensif.


Korban tambahan diketahui merupakan siswa TK Al-Hidayah 01 dan PAUD Qur’an Raudlatul Tulab di Kecamatan Kaliwates. Sebelumnya, makanan MBG juga didistribusikan ke sejumlah lembaga pendidikan lain, seperti TK Raudatul Tulab di Jalan Gajah Mada, TK Hidayatullah Mubtadiin di Jalan Teratai, PAUD Aster 29, dan TK Kuncup Bunga.


Kepala SPPG Al Mubarok Kaliwates Yayasan 88 Berkah, Ahmad Farid Anam, mengatakan pihaknya langsung bergerak setelah menerima laporan adanya siswa yang mengalami gejala keracunan.


“Mulai kemarin sore kami langsung membagi tim untuk menjemput siswa yang mual muntah di sekolah dan mengirim mereka ke RS Kaliwates maupun Puskesmas Jember Kidul. Alhamdulillah semuanya sudah ditangani dan sebagian besar rawat jalan,” ujar Farid saat dikonfirmasi disela sidak di lokasi SPPG.


Ia mengatakan, seluruh biaya pengobatan korban yang tidak ditanggung BPJS telah ditanggung pihak mitra dapur sebagai bentuk tanggung jawab.


Farid menjelaskan menu MBG yang dibagikan saat kejadian berbeda antara porsi kecil dan porsi besar. Untuk siswa kategori porsi kecil disajikan ayam suwir bumbu kuning, tahu krispi, timun, dan buah jeruk. Sedangkan porsi besar menggunakan ayam suwir bumbu merah.


“Yang terdampak ini porsi kecil, ada di dua sekolah. Sementara porsi besar dengan ayam suwir bumbu merah tidak ada laporan terdampak,” katanya.


Meski demikian, Farid belum bersedia menyimpulkan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut. Menurutnya, seluruh sampel makanan telah dikirim ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.

Baca juga: Gempa M5,1 Guncang Tenggara Jember, Getaran Terasa hingga Banyuwangi dan Malang


“Kami menunggu hasil laboratorium dari Labkesda dan juga pemeriksaan dari Reskrim. Dugaan sementara belum bisa dipastikan. Bisa saja faktor makanan, bisa juga faktor kondisi tubuh masing-masing anak. Jadi kami mohon menunggu hasil lab agar tidak muncul fitnah,” ucapnya.


Ia juga mengungkapkan dapur MBG sementara disuspensi atau dihentikan operasionalnya berdasarkan arahan dari Badan Gizi Nasional (BGN) sampai hasil pemeriksaan laboratorium keluar.


“Hari ini kami tidak beroperasi dan tidak melakukan distribusi makanan. Kami masih menunggu keputusan lebih lanjut,” katanya.


Sementara itu, Ketua Satgas MBG Jember, Achmad Imam Fauzi, menegaskan pemerintah daerah berpihak kepada korban dan meminta peristiwa serupa tidak terulang kembali.


“Faktanya ada korban, itu fakta. Berarti ada sesuatu di hulunya. Persoalan teknis biar diproses, tetapi keselamatan harus diutamakan,” tegasnya.


Ia juga menyebut hasil sidak menemukan sejumlah catatan teknis di dapur MBG, salah satunya penempatan tabung gas di ruang tertutup yang dinilai berisiko terhadap keamanan dan higienitas.

Baca juga: Gagal Nyalip Pengendara Vario di Jember Tewas Tersenggol Truk Boks


“Saya menemukan ada gas di tempat tertutup. Seharusnya itu di luar ruangan. Ketika ada kebocoran gas (itu) bisa menimbulkan persoalan,” ujarnya.


Selain itu, Satgas MBG bersama BPOM dan aparat kepolisian masih mendalami aspek higienitas dapur, sistem distribusi makanan, hingga kualitas bahan pangan yang digunakan. Sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan juga telah dikirim untuk diuji laboratorium.


Fauzi juga memastikan, hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar penentuan sanksi maupun langkah lanjutan terhadap pihak pengelola dapur MBG tersebut.


Sebelumnya diberitakan, terkait kronologi kejadian bermula pada Rabu (20/5/2026) siang, saat para siswa menerima paket MBG dari dapur penyedia. Beberapa jam setelah makanan dikonsumsi, sejumlah anak mulai mengeluhkan sakit perut, mual, muntah, hingga tidak mampu makan dan minum.


Pihak sekolah kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada pengelola dapur dan petugas kesehatan.

Editor : Wahyudi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru