KLIKJATIM.Com | Jakarta - PLN UIP2B Jamali menggelar program PLN Mengajar di Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DTE FTUI). Kegiatan ini mengusung tema Dampak Beroperasinya Pembangkit Renewable Energy terhadap Keandalan Sistem Jawa, Madura, dan Bali.
Senior Manager Operasi Sistem PLN UIP2B Jamali, Elvanto Yanuar Ikhsan, hadir sebagai dosen tamu bersama Manager Analisis dan Evaluasi Operasi Sistem Suci Rositawati, serta Assistant Manager Pengelolaan Data Aplikasi dan Data Operasi Real Time Bilkis Mukhlisoti. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mendapat wawasan mendalam mengenai integrasi energi baru terbarukan (EBT) pada sistem tenaga listrik.
Baca juga: PLN Perkuat Wisata Air Candirejo, Tingkatkan Kompetensi Pengelola dan Keselamatan Pengunjung
Program ini bertujuan memperkuat sinergi antara PLN dan dunia akademik. Sistem kelistrikan Jamali saat ini menjadi pilar utama ekonomi nasional dengan kompleksitas pengaturan beban yang sangat tinggi. Pertumbuhan pembangkit EBT dalam peta jalan Green Energy nasional turut membawa perubahan signifikan terhadap dinamika frekuensi sistem.
“Kompleksitas beban di sistem Jamali kian meningkat seiring masuknya variabel energi baru dan terbarukan. Sistem harus siap menghadapi variabilitas dan menjaga stabilitas kelistrikan,” ujar Elvanto.
Dalam pemaparannya, PLN menjelaskan target emisi nol bersih pada 2060 mendorong percepatan pembangunan pembangkit ramah lingkungan. Namun, pembangkit EBT seperti tenaga surya dan angin memiliki karakteristik intermiten atau bergantung pada kondisi alam. Hal ini berdampak langsung pada pengelolaan kestabilan tegangan sistem kelistrikan.
Meski ramah lingkungan, sifat intermiten EBT menjadi tantangan besar bagi keandalan pasokan listrik berkelanjutan. Penurunan inersia sistem dapat terjadi apabila penetrasi EBT tidak dikelola dengan dukungan teknologi mutakhir. Karena itu, PLN menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga keseimbangan beban.
Baca juga: Listrik Andal Terjamin, PLN dan Polda Jateng Perkuat Pengamanan Obvitnas
Strategi tersebut meliputi implementasi smart grid, digitalisasi sistem proteksi, serta pemanfaatan Battery Energy Storage System (BESS). Teknologi ini memungkinkan penyerapan daya dari EBT dilakukan secara lebih fleksibel dan terukur, sekaligus menjaga standar pelayanan listrik yang andal.
Dalam perbandingan kawasan ASEAN, Thailand dinilai memimpin peta jalan dekarbonisasi sektor kelistrikan. Sistem Electricity Generating Authority of Thailand (EGAT) didominasi gas sebesar 63,3 persen, EBT 22,3 persen, batu bara 13,2 persen, dan lainnya 1,2 persen. Sementara sistem Tenaga Nasional Berhad (TNB) Malaysia didominasi batu bara 58,6 persen, gas 33,1 persen, EBT 7 persen, dan lainnya 1,3 persen.
Adapun sistem kelistrikan PT PLN (Persero) di wilayah Jamali masih didominasi pembangkit batu bara 60,2 persen, gas 30,5 persen, EBT 8,4 persen, dan lainnya 0,9 persen. Meski demikian, kapasitas terpasang sistem Jamali menjadi salah satu yang terbesar dan paling stabil di Asia Tenggara.
Baca juga: PLN Pasang 50 Data Concentrator, Perkuat Keandalan Listrik Krian–Gresik
Program PLN Mengajar diharapkan mampu memotivasi mahasiswa Teknik Elektro UI untuk terus berinovasi dalam riset ketenagalistrikan. Sinergi ini menjadi bentuk nyata kontribusi PLN dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui edukasi teknis.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab mengenai masa depan pengoperasian sistem tenaga listrik berbasis energi terbarukan. Melalui kegiatan ini, PLN UIP2B Jamali menegaskan komitmennya mendukung ketahanan energi nasional yang berkelanjutan, dengan tetap mengutamakan keamanan serta kualitas pasokan listrik.
Editor : Abdul Aziz Qomar