KLIKJATIM.Com | Jakarta - PT Pupuk Indonesia (Persero) berencana membangun dua pabrik metanol guna mendukung program transisi energi menuju biodiesel 50% (B50). Kebijakan ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor metanol sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi mengatakan, pembangunan pabrik tersebut merupakan penugasan pemerintah dalam rangka mendukung konversi crude palm oil (CPO) menjadi biofuel. Dua pabrik itu akan dibangun di Aceh dan Kalimantan Timur.
Baca juga: Meski Libur, Pasokan Pupuk Bersubsidi PG Lebihi Ketentuan
"Kami ditugaskan untuk mendukung transisi menuju B50, di mana B50 itu membutuhkan dua pabrik metanol supaya bisa mengkonversi dari CPO menjadi biofuel," ujar Rahmad dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, yang disiarkan secara virtual, Selasa (7/4/2026).
Saat ini, kebutuhan metanol nasional masih sangat bergantung pada impor yang mencapai sekitar 1,5 juta ton per tahun. Tanpa pembangunan pabrik baru, impor diperkirakan meningkat hingga 2,5 juta ton.
Rahmad menjelaskan, dua pabrik metanol tersebut akan dibangun di dua lokasi strategis, yakni di Lhokseumawe, Aceh dan Bontang, Kalimantan Timur, tepatnya di kawasan industri yang telah memiliki infrastruktur pendukung seperti pelabuhan dan akses energi. "Lokasi dipilih karena sumber gas tersedia dan kawasan industrinya sudah ada, sehingga pembangunan bisa lebih cepat," katanya.
Baca juga: Harga Pupuk Subsidi Turun 20 Persen, Pupuk Indonesia Pastikan Pasokan Aman untuk Musim Tanam
Rahmad menambahkan, proyek tersebut telah mendapatkan persetujuan pemerintah dan kini tengah dalam tahap persiapan, termasuk kerja sama dengan mitra strategis. Salah satunya melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan energi global Mubadala Energy, serta koordinasi dengan pemerintah daerah Kalimantan Timur.
Pembangunan kedua pabrik diperkirakan memakan waktu sekitar 40 bulan. Meski demikian, Rahmad belum merinci nilai investasi (capex) proyek tersebut karena masih dalam tahap perhitungan.
Selain mendukung transisi energi, Pupuk Indonesia juga memastikan pasokan pupuk dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Saat ini, produksi urea nasional mencapai hampir 8 juta ton dengan kebutuhan domestik sekitar 6,3 juta ton, sehingga terdapat surplus yang dapat diekspor.
Baca juga: Pupuk Indonesia Imbau Pengecer Pupuk Bersubsidi Taati Aturan Penyaluran
"Pertama, harus dipastikan adalah kebutuhan domestik aman. Setelah itu baru kita alokasikan untuk ekspor ke negara-negara sahabat," ujarnya.
Rahmad menyebut, ekspor pupuk Indonesia berpotensi meningkat di tengah terganggunya pasokan global, terutama dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menyuplai sekitar 10 juta ton urea melalui Selat Hormuz.
Editor : Wahyudi