Puluhan Santri di Jombang Diduga Keracunan Usai Buka Puasa Rawon

Reporter : Diana
Santri di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Jombang, yang mengalami dugaan keracunan makanan mendapat perawatan medis di RS

KLIKJATIM.Com | Jombang  - Sedikitnya  31 santri di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Jombang, mengalami dugaan keracunan makanan setelah menyantap hidangan berbuka puasa. Untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut, Dinas Kesehatan setempat mengambil sejumlah sampel makanan dan cairan yang akan diuji di laboratorium.

Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan menjelaskan bahwa para santri yang mengalami gejala keracunan telah mendapatkan penanganan medis di RS PKU Muhammadiyah Mojoagung. Dari total korban, sebagian besar telah membaik.

Baca juga: Anggota Komisi VII DPR BHS Soroti Tata Kelola SPPG Sidoarjo

“Yang masih dirawat di IGD tinggal tujuh orang. Sementara yang lain kondisinya sudah membaik karena cepat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (6/3/2026).

Peristiwa ini terjadi setelah para santri menyantap menu buka puasa berupa nasi, rawon, dan telur asin pada Kamis (5/3) sekitar pukul 18.00 WIB. Berdasarkan informasi awal, nasi dan kuah rawon dimasak oleh pihak pesantren, sedangkan telur asin berasal dari SPPG Betek Yayasan Bantar Angin Jaya Abadi.

Untuk menyelidiki sumber keracunan, pihak kepolisian bersama Dinas Kesehatan mengambil beberapa sampel, di antaranya kuah rawon, telur asin, serta muntahan dari para santri. Sampel tersebut akan dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLabkesmas) Surabaya untuk dianalisis lebih lanjut.

Baca juga: BGN Hentikan Operasional Dua SPPG di Kabupaten Pamekasan

Menurut Ardi, keterangan para santri yang dirawat menunjukkan variasi konsumsi makanan. Ada yang mengaku memakan rawon dan telur asin sekaligus, ada pula yang hanya memakan salah satu dari menu tersebut.

“Keterangan dari para santri berbeda-beda. Ada yang makan telur dan rawon, ada yang hanya telur, dan ada yang hanya rawon. Hal ini yang akan dipastikan melalui hasil pemeriksaan laboratorium,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Jombang dr Hexawan Tjahja Widada menambahkan bahwa selain makanan dan muntahan korban, pihaknya juga mengambil sampel air dari lingkungan pesantren untuk diperiksa.

Baca juga: Dongkrak Ekonomi Jember, Kepala BGN Resmikan SPPG Baru

“Sampel-sampel itu akan kami kirim ke laboratorium kesehatan di Surabaya. Proses pemeriksaan diperkirakan memerlukan waktu minimal 10 hari,” katanya.

Sementara itu, biaya perawatan bagi para santri yang menjadi korban untuk sementara ditanggung oleh pihak pesantren. Hal ini dilakukan sambil menunggu hasil penyelidikan terkait sumber penyebab keracunan tersebut.

Editor : Wahyudi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru