Mayoritas Anak Meninggal Akibat Campak di Sumenep Ternyata Belum Divaksin

Reporter : fadil
Vaksin campak dan rubella disiapkan sebagai bagian dari program imunisasi guna mencegah penyebaran penyakit campak pada anak-anak. (doc. Istimewa/Klikjatim.Com)

KLIKJATIM.Com | Sumenep – Rendahnya cakupan vaksinasi campak di masyarakat menjadi salah satu faktor utama tingginya angka kematian anak akibat penyakit tersebut di Kabupaten Sumenep, Madura. Sebagian besar korban meninggal diketahui belum mendapatkan imunisasi campak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep, Achmad Syamsuri, mengungkapkan bahwa mayoritas kasus kematian terjadi pada anak-anak yang tidak menerima vaksin.

Baca juga: Sekda Sumenep Singgung Skandal BSPS 2024, Minta Program Tahun Ini Bersih dari Praktik Potongan dan Mark Up

“Memang rata-rata kematian akibat campak kemarin cukup banyak. Sebagian besar kasus kematian itu terjadi karena anak-anak tersebut tidak mendapatkan vaksin,” ujar Syamsuri, Kamis (5/3).

Ia menjelaskan, lonjakan kasus campak sempat terjadi pada tahun 2025 hingga membuat Kabupaten Sumenep ditetapkan sebagai wilayah dengan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Pada periode itu, peningkatan kasus tidak hanya terjadi pada jumlah penderita, tetapi juga disertai dengan laporan kematian anak.

“Untuk saat ini tidak ada kasus baru. Namun pada tahun 2025 memang terjadi KLB campak di Sumenep dan ada kasus kematian,” katanya.

Syamsuri menambahkan, jumlah kasus campak pada 2025 meningkat dibandingkan tahun 2024. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah untuk segera melakukan berbagai langkah penanganan dan pencegahan.

Baca juga: Keluarga Korban Datangi BRI Sumenep, Desak Pengembalian Dana Pensiun yang Dipotong

“Kalau dibandingkan tahun sebelumnya, dari 2024 ke 2025 memang ada peningkatan jumlah kasus,” ujarnya.

Sebagai respons terhadap situasi tersebut, pemerintah daerah mempercepat pelaksanaan program imunisasi bagi anak-anak. Program imunisasi khusus pun digelar untuk menekan penyebaran campak di wilayah tersebut.

“Waktu itu kami melaksanakan imunisasi khusus campak di Kabupaten Sumenep. Setelah status KLB dinyatakan selesai, program dilanjutkan dengan kegiatan kejar imunisasi,” jelasnya.

Baca juga: Aksi Ricuh di PN Sumenep, Demonstran Soroti Mandeknya Eksekusi Perkara

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tercatat sebanyak 20 anak di Kabupaten Sumenep meninggal dunia akibat campak selama periode Februari hingga Agustus 2025.

Data tersebut menjadi peringatan bagi pemerintah untuk memperkuat upaya pencegahan melalui peningkatan cakupan imunisasi massal, agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang. 

Editor : Abdul Aziz Qomar

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru